Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Tulisan tentang perbedaan “Muslim vs non-Muslim” perlu diletakkan dalam kerangka yang lebih jernih, khususnya dalam menyikapi kehidupan dan kematian, agar tidak terjebak pada penyederhanaan identitas semata. Sebab, yang membedakan manusia bukan sekadar label keagamaan, melainkan juga cara pandangnya terhadap makna hidup, tujuan keberadaan, serta keyakinannya tentang apa yang terjadi setelah kematian. Dari titik inilah terlihat apakah seseorang hidup dengan orientasi nilai dan tanggung jawab akhirat, atau justru terjebak dalam kepentingan duniawi yang sempit.
Dalam tradisi Islam, terdapat ungkapan moral yang sangat kuat:
عِشْ كَرِيْمًا أَوْ مُتْ شَهِيْدًا
ʿIsh karīman aw mut shahīdan
"Hiduplah dengan kemuliaan atau matilah sebagai syahid".
Ini bukan ajakan menuju kematian, melainkan penegasan bahwa hidup harus berpijak pada kehormatan, keadilan, dan kebenaran. Seorang Muslim tidak diajarkan untuk mencari mati, tetapi diajarkan untuk tidak takut mati ketika berhadapan dengan prinsip. Di sinilah letak kemuliaan itu: keberanian moral yang lahir dari keyakinan akan kehidupan akhirat.
Keyakinan terhadap akhirat menjadi pembeda mendasar dalam cara manusia menjalani hidup. Islam menegaskan bahwa setelah kehidupan dunia, ada hisab, ada surga (al-jannah) dan neraka (an-nār). Keyakinan ini melahirkan orientasi hidup yang tidak berhenti pada dunia. Maka, bagi orang beriman, kehilangan dunia bukanlah akhir dari segalanya, dan kematian bukanlah kehancuran, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih hakiki. Prinsip itu yang dipegang para pejuang Islam sejak zaman Nabi Saw hingga sekarang yang terjadi pada para pemimpin Iran melawan Israel-Amerika.
Memang, jika dilihat secara luas, berbagai agama di luar Islam seperti Kristen, Hindu, dan Buddha juga mengenal konsep kehidupan setelah mati—dengan istilah surga, Nirwana, neraka, karma, atau reinkarnasi. Ini menunjukkan bahwa kesadaran tentang akhirat adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, dalam akidah Islam, kebenaran tentang jalan keselamatan tidak cukup hanya dengan mengakui adanya kehidupan setelah mati. Ia harus berpijak pada iman yang benar kepada Allah Swt dan mengikuti risalah Nabi Muhammad Saw sebagai penyempurna ajaran.
Di sinilah letak garis tegasnya: bukan sekadar percaya “ada akhirat”, tetapi apakah keyakinan itu bersandar pada wahyu yang haq atau tidak. Meski demikian, Islam juga mengajarkan keadilan Ilahi yang tidak simplistis. Para ulama membahas tentang mereka yang belum sampai dakwah dengan benar (ahlul fatrah), bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Allah Yang Maha Adil. Tidak ada satu pun manusia yang akan dihisab tanpa pertimbangan pengetahuan dan keadaannya.
Dalam perspektif Eschatology, setiap agama memiliki pendekatan yang berbeda dalam memahami kehidupan setelah mati. Islam memandang akhirat secara linear—hidup sekali, lalu kebangkitan, hisab, dan pembalasan final di surga atau neraka. Sementara Hindu dan Buddha cenderung melihatnya secara siklikal, melalui konsep reinkarnasi dan hukum karma, di mana tujuan akhirnya adalah terbebas dari siklus kelahiran itu sendiri. Perbedaan ini bukan sekadar teologis, tetapi juga membentuk cara manusia memaknai hidup: apakah sebagai satu kesempatan yang menentukan, atau sebagai rangkaian proses panjang yang terus berulang.
Namun ironi muncul ketika sebagian umat Islam sendiri kehilangan ruh keyakinan tersebut. Mereka tetap mengaku beriman kepada akhirat, tetapi cara hidupnya justru mencerminkan ketakutan berlebihan terhadap kematian. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati. Akibatnya, prinsip mudah dikompromikan, keberanian moral melemah, dan kehidupan hanya diorientasikan untuk bertahan selama mungkin—seolah ingin “hidup seribu tahun lagi.”
Dalam kondisi seperti ini, batas antara “yang beriman” dan “yang materialistik” menjadi kabur. Sebab ukuran sejatinya bukan sekadar identitas, melainkan sikap batin. Seorang Muslim yang dikuasai wahn pada hakikatnya sedang meniru mentalitas materialistik, sementara nilai-nilai Islam justru menuntut keberanian untuk hidup bermartabat.
Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar ingin hidup lama, tetapi oleh mereka yang berani hidup benar. Mereka yang menjadikan akhirat sebagai orientasi akan memiliki keberanian yang berbeda: tidak mudah tunduk pada tekanan, tidak mudah menjual prinsip, dan tidak gentar menghadapi risiko.
Karena itu, refleksi utama yang perlu diajukan bukan lagi “siapa kita”, tetapi lebih dari itu “bagaimana kita hidup”. Apakah kita hidup dengan kemuliaan sebagaimana diajarkan iman, atau justru dikuasai ketakutan kehilangan dunia? Di sinilah Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi menjadi jalan keselamatan yang membentuk cara pandang, cara bersikap, dan cara menghadapi kehidupan hingga kematian.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 28 Ramadhan 1447 H / 18 Maret 2026 M.