Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Di tengah gegap gempita pelantikan PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di Luwu Timur, sebuah kisah yang diberitakan luas di media sosial dengan judul “Kisah Cinta Paling Mengharukan dari Luwu Timur” menyita perhatian publik. Bukan karena seremoni kenegaraan atau deretan pejabat, melainkan satu pemandangan yang membuat banyak mata basah dan hati terdiam. Seorang suami menggendong istrinya masuk ke lokasi pelantikan. Bukan demi romantisme sesaat. Bukan pula demi sorotan kamera.
Sang istri memang tak mampu berjalan. Sudah bertahun-tahun tubuhnya melemah sejak mengalami pendarahan hebat saat melahirkan. Langkahnya terhenti oleh sakit yang tak kunjung pergi. Namun mimpinya tidak pernah berhenti. Hari itu adalah hari yang ia tunggu dengan doa panjang dan kesabaran yang sunyi: hari ketika perjuangannya berbuah, dilantik sebagai PPPK.
Dan sang suami memilih peran yang barangkali tak tercatat dalam berita resmi. Ia menjadi kaki bagi istrinya. Menjadi tenaga bagi tubuh yang lemah. Menjadi sandaran bagi mimpi yang nyaris runtuh. Dengan napas tertahan dan peluh yang jatuh, ia menggendong tanpa keluhan. Karena baginya, cinta bukan soal kata manis, melainkan kesetiaan yang tetap tinggal ketika raga tak lagi sempurna.
MasyaAllah, ini kisah yang sunyi tapi mengguncang. Tanggapan kita—sebagai manusia, sebagai orang beriman, dan sebagai bangsa—seharusnya tidak berhenti pada rasa haru semata.
Pertama, kisah ini mengoreksi cara kita memahami cinta. Di zaman ketika cinta sering direduksi menjadi perasaan, estetika, dan unggahan media sosial, pasangan dari Luwu Timur ini mengajarkan bahwa cinta sejati justru lahir ketika romantisme telah habis, ketika tubuh tak lagi ideal, dan ketika hidup menuntut pengorbanan nyata. Suami itu tidak menggendong karena momen, tetapi karena tanggung jawab. Inilah cinta yang dewasa.
Kedua, ini adalah pelajaran tentang martabat manusia. Perempuan itu bukan sekadar objek iba atau “penyandang sakit”. Ia adalah pejuang: seorang ibu yang nyaris kehilangan nyawa saat melahirkan, lalu bangkit dengan segala keterbatasan, bertahan dalam sunyi, dan akhirnya berdiri—meski digendong—sebagai aparatur negara. Negara seharusnya membaca kisah ini bukan sekadar cerita viral, melainkan cermin bahwa banyak warga berjuang jauh melampaui yang tampak di permukaan.
Ketiga, sang suami adalah tafsir hidup dari akad nikah. Kalimat “dalam sehat dan sakit” sering diucapkan, tetapi jarang dijalani. Ia tidak berpidato, tidak mengutip ayat, tidak membuat pernyataan heroik. Ia hanya menggendong. Namun justru di situlah kebesaran akhlak itu hadir. Dalam Islam, inilah ma‘ruf: kebaikan yang hidup, bukan sekadar konsep.
Keempat, kisah ini menampar nurani sosial kita. Di saat ada yang mudah meninggalkan pasangan karena sakit, miskin, atau tak lagi produktif, lelaki ini menunjukkan bahwa kesetiaan bukan soal untung dan rugi. Ia membuktikan bahwa cinta bukan tentang “apa yang kamu beri padaku”, melainkan “apa yang sanggup kutanggung bersamamu”.
Kelima, kisah ini sekaligus menjadi kritik sosial yang halus namun tajam. Di banyak tempat, kita menyaksikan ironi yang berlawanan: tidak sedikit guru perempuan yang setelah lulus PPPK, memperoleh sertifikasi, tunjangan profesi, dan peningkatan status sosial, justru mengajukan gugatan cerai terhadap suami mereka. Padahal sang suami adalah orang yang sejak awal berjuang, menopang, dan setia mendampingi ketika ekonomi masih sulit dan jalan hidup belum terang. Ironinya, yang sering ditinggalkan bukanlah suami yang lalai, melainkan suami yang tak berubah dari pekerjaan kasarnya—tetap sederhana, tetap sama, dan justru itulah yang kini dianggap tidak lagi sepadan.
Di titik inilah kisah dari Luwu Timur menjadi cermin yang menyakitkan sekaligus menyejukkan. Ia memperlihatkan wajah lain dari cinta dan kesetiaan: bahwa keberhasilan tidak seharusnya melahirkan pengingkaran, dan kenaikan status tidak semestinya berujung pada perceraian.
Maka benar, ini bukan sekadar pelantikan PPPK. Ini adalah wisuda kesabaran, kelulusan doa, dan pengesahan cinta yang matang. Semoga kisah ini tidak hanya membuat mata kita basah, tetapi juga mengubah cara kita mencintai, menikah, dan bertahan. Karena cinta sejati, seperti yang mereka tunjukkan, tidak pernah berjalan sendirian.
Gresik, 19 Januari 2026
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik