Puisi Esai
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Dunia tidak pernah benar-benar sunyi.
Ia berisik oleh pidato,
oleh klaim,
oleh janji yang berhamburan di udara,
oleh angka-angka yang diperdebatkan
seakan-akan surga dan neraka bergantung pada statistik.
Di layar-layar kecil,
kata-kata saling bertabrakan.
Komentar bersahut-sahutan.
Benar dan salah berkelahi
tanpa jeda untuk bernapas.
Dan di tengah semua itu,
ada jiwa-jiwa yang diam-diam lelah.
Bukan karena tak peduli.
Bukan karena tak punya sikap.
Tapi karena terlalu sering hati dipaksa
menjadi arena pertarungan
yang tak pernah selesai.
Kita hidup di zaman
di mana opini lebih cepat dari perenungan,
reaksi lebih deras dari refleksi,
dan kebisingan dianggap tanda kepedulian.
Padahal, tidak semua suara harus diikuti.
Tidak semua pernyataan harus dijawab.
Tidak semua provokasi layak menjadi santapan batin.
Ada saatnya jiwa berkata:
cukup.
Cukup menjadi penonton kegaduhan.
Cukup menimbang setiap kata yang dilemparkan angin.
Cukup mengunyah isu-isu yang tidak pernah benar-benar
selesai.
Sebab hati juga punya hak untuk beristirahat.
Lelah itu bukan kelemahan.
Ia adalah tanda bahwa jiwa masih hidup.
Masih peka.
Masih peduli.
Yang mati justru mereka
yang tak lagi terusik oleh apa pun,
yang tak lagi merasa sesak oleh kebohongan,
yang tak lagi gelisah oleh ketidakadilan.
Tetapi bahkan kepedulian pun
butuh jeda.
Seperti siang yang perlu malam,
seperti ombak yang perlu surut,
seperti dada yang perlu hening
agar bisa kembali lapang.
Kebisingan duniawiah
sering menyamar sebagai kewajiban moral.
“Kau harus bicara.”
“Kau harus menanggapi.”
“Kau harus berada di barisan ini atau itu.”
Seakan-akan diam adalah dosa.
Seakan-akan rehat adalah pengkhianatan.
Padahal dalam sunyi
ada kebijaksanaan yang tak terdengar
oleh telinga yang terbiasa ribut.
Dalam diam,
akal kembali jernih.
Dalam sepi,
niat diperiksa ulang.
Dalam hening,
kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah ini perjuangan,
atau sekadar kebiasaan berdebat?
Jiwa-jiwa yang lelah
tidak membutuhkan lebih banyak argumen.
Ia membutuhkan makna.
Ia rindu pada percakapan yang tidak berteriak.
Rindu pada kata-kata yang tidak memaksa.
Rindu pada ruang di mana perbedaan
tidak selalu berubah menjadi permusuhan.
Mungkin kita terlalu lama
menjadi prajurit dalam perang kata-kata.
Dan lupa bahwa kita juga hamba
yang membutuhkan ketenangan.
Bukankah dunia ini hanya persinggahan?
Hanya mampir “ngombe”.
Bukankah hiruk-pikuk ini hanya bayangan
yang suatu hari akan hilang
ditelan waktu?
Maka, jika hari ini engkau merasa lelah,
itu bukan tanda menyerah.
Itu tanda bahwa jiwamu meminta pulang.
Pulang kepada kesunyian yang menenangkan.
Pulang kepada doa yang tak perlu diperdebatkan.
Pulang kepada Tuhan
yang tidak pernah gaduh.
Biarkan dunia berbicara dengan segala kebisingannya.
Biarkan angka-angka saling beradu.
Biarkan opini berkejaran tanpa ujung.
Engkau tidak wajib hadir di setiap keramaian.
Kadang, menjaga kewarasan
adalah bentuk perjuangan yang paling sunyi.
Dan mungkin,
yang paling diridhai.
Jiwa suci itu
pelan-pelan merasa asing
di tengah gemuruh yang tak pernah reda.
Ia pernah ikut bersuara,
pernah ikut berlari
di antara kerumunan yang saling menyalahkan.
Namun semakin jauh melangkah,
semakin ia sadar—
bukan di sana rumahnya.
Ada rindu yang tak bisa dijelaskan
oleh argumentasi.
Ada panggilan yang tak terdengar
oleh telinga yang sibuk berdebat.
Rindu itu sederhana:
ingin kembali kepada Rabbil ‘Ālamīn,
dengan langkah yang ringan,
tanpa membawa dendam,
tanpa memikul kesombongan.
Ia ingin kembali
sebagai jiwa yang rāḍiyyah—
yang ridha atas takdir,
yang tenang dalam kehilangan,
yang lapang dalam ketidakmengertian.
Dan lebih dari itu,
ia berharap menjadi marḍiyyah—
jiwa yang diridhai,
yang dipanggil dengan kelembutan,
bukan dengan teguran.
Maka setiap lelah
bukan lagi keluhan.
Setiap diam
bukan lagi kekalahan.
Semua adalah tanda
bahwa hati sedang diarahkan pulang—
menuju cahaya
yang tidak pernah gaduh,
menuju kasih
yang tidak pernah meninggalkan.
Di sanalah jiwa itu ingin berlabuh.
Tenang.
Utuh.
Dan diterima.
Gresik , 13 Februari 2026
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik