Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Teks hadis:
اللَّهُمَّ،
مَن وَلِيَ مِن
أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ
عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن
وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي
شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ
بهِ
Artinya:
"Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari
umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang
mengurusi urusan dari umatku, lalu ia berbuat lembut dan penuh kasih kepada
mereka, maka perlakukanlah dia dengan kelembutan dan kasih sayang."
Doa berikut adalah hadis sahih riwayat Muslim yang sangat
kuat pesannya tentang amanah kepemimpinan. Hadis ini tidak hanya ditujukan
kepada kepala negara, tetapi kepada siapa pun yang memiliki wewenang atas orang
lain: pemimpin pemerintahan, pejabat, kepala daerah, pimpinan organisasi,
atasan di tempat kerja, bahkan kepala keluarga.
Makna penting hadis
1. Kepemimpinan adalah amanah, bukan hak istimewa
Rasulullah ﷺ
menggunakan ungkapan "man waliya min amri ummati syai'an" (siapa yang
mengurus sebagian urusan umatku). Kata "sebagian" menunjukkan bahwa
sekecil apa pun jabatan dan kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban.
2. Yang dikecam adalah kesengajaan mempersulit rakyat
Kata "fashaqqa 'alaihim" berasal dari akar kata
yang berarti memberatkan, menyulitkan, atau membebani. Ini mencakup:
Kebijakan yang tidak mempedulikan kesulitan masyarakat.
Penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Pelayanan publik yang berbelit-belit.
Sikap arogan dan tidak mau mendengar keluhan.
Hadis ini tidak berarti setiap keputusan yang tidak populer
otomatis berdosa. Terkadang pemimpin harus mengambil keputusan berat demi
kemaslahatan yang lebih besar. Yang dicela adalah sikap zalim, tidak peduli,
dan sengaja mempersulit.
3. Kepemimpinan yang dirahmati adalah yang penuh empati
Kata "rafaqa" berarti bersikap lembut, penuh
perhatian, dan mempertimbangkan keadaan orang lain. Bukan berarti lemah atau
tidak tegas, tetapi:
Mendengar aspirasi masyarakat.
Mempermudah urusan yang bisa dipermudah.
Menegakkan aturan dengan adil.
Mengutamakan kemaslahatan umum daripada kepentingan pribadi
atau kelompok.
Relevansi bagi para pemimpin
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang
pemimpin dalam Islam bukan hanya pembangunan, kekuasaan, atau popularitas,
tetapi juga sejauh mana rakyat merasakan keadilan, kemudahan, dan kasih sayang
dari kepemimpinannya.
Doa Nabi ﷺ
ini juga mengandung peringatan bahwa hubungan pemimpin dengan rakyat bukan
sekadar urusan politik atau administrasi, melainkan juga urusan yang
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pemimpin yang memanfaatkan jabatan
untuk menindas atau mempersulit masyarakat berhadapan dengan doa Rasulullah ﷺ sendiri. Sebaliknya, pemimpin
yang tulus melayani, memudahkan urusan, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat
mendapat doa agar Allah SWT. memberikan rahmat dan kemudahan kepadanya.
Karena itu, hadis ini dapat diringkas dalam satu pesan:
semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar tuntutan untuk menghadirkan
kemudahan, keadilan, dan kasih sayang bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Hadis ini bukan hanya berbicara tentang keutamaan
kepemimpinan, tetapi juga tentang beratnya hisab kepemimpinan.
Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin luas dampak
keputusannya terhadap manusia. Karena itu, semakin besar pula
pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota
Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik