Loading...
DO'A NABI SAW KEPADA PERIMPIN SEPANJANG ZAMAN
25/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy 

Teks hadis:

اللَّهُمَّ، مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ

Artinya:

"Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia berbuat lembut dan penuh kasih kepada mereka, maka perlakukanlah dia dengan kelembutan dan kasih sayang."

Doa berikut adalah hadis sahih riwayat Muslim yang sangat kuat pesannya tentang amanah kepemimpinan. Hadis ini tidak hanya ditujukan kepada kepala negara, tetapi kepada siapa pun yang memiliki wewenang atas orang lain: pemimpin pemerintahan, pejabat, kepala daerah, pimpinan organisasi, atasan di tempat kerja, bahkan kepala keluarga.

Makna penting hadis

1. Kepemimpinan adalah amanah, bukan hak istimewa

Rasulullah menggunakan ungkapan "man waliya min amri ummati syai'an" (siapa yang mengurus sebagian urusan umatku). Kata "sebagian" menunjukkan bahwa sekecil apa pun jabatan dan kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban.

2. Yang dikecam adalah kesengajaan mempersulit rakyat

Kata "fashaqqa 'alaihim" berasal dari akar kata yang berarti memberatkan, menyulitkan, atau membebani. Ini mencakup:

Kebijakan yang tidak mempedulikan kesulitan masyarakat.

Penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Pelayanan publik yang berbelit-belit.

Sikap arogan dan tidak mau mendengar keluhan.

Hadis ini tidak berarti setiap keputusan yang tidak populer otomatis berdosa. Terkadang pemimpin harus mengambil keputusan berat demi kemaslahatan yang lebih besar. Yang dicela adalah sikap zalim, tidak peduli, dan sengaja mempersulit.

3. Kepemimpinan yang dirahmati adalah yang penuh empati

Kata "rafaqa" berarti bersikap lembut, penuh perhatian, dan mempertimbangkan keadaan orang lain. Bukan berarti lemah atau tidak tegas, tetapi:

Mendengar aspirasi masyarakat.

Mempermudah urusan yang bisa dipermudah.

Menegakkan aturan dengan adil.

Mengutamakan kemaslahatan umum daripada kepentingan pribadi atau kelompok.

Relevansi bagi para pemimpin

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin dalam Islam bukan hanya pembangunan, kekuasaan, atau popularitas, tetapi juga sejauh mana rakyat merasakan keadilan, kemudahan, dan kasih sayang dari kepemimpinannya.

Doa Nabi ini juga mengandung peringatan bahwa hubungan pemimpin dengan rakyat bukan sekadar urusan politik atau administrasi, melainkan juga urusan yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pemimpin yang memanfaatkan jabatan untuk menindas atau mempersulit masyarakat berhadapan dengan doa Rasulullah sendiri. Sebaliknya, pemimpin yang tulus melayani, memudahkan urusan, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat mendapat doa agar Allah SWT. memberikan rahmat dan kemudahan kepadanya.

Karena itu, hadis ini dapat diringkas dalam satu pesan: semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar tuntutan untuk menghadirkan kemudahan, keadilan, dan kasih sayang bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Hadis ini bukan hanya berbicara tentang keutamaan kepemimpinan, tetapi juga tentang beratnya hisab kepemimpinan.

Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin luas dampak keputusannya terhadap manusia. Karena itu, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik