Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Hidup di dunia tidak pernah benar-benar sempurna dan ideal. Dalam pandangan Al-Qur’an, dunia memang tidak diciptakan sebagai tempat kesempurnaan, melainkan sebagai tempat ujian bagi manusia. Allah Swt berfirman: “Alladzi khalaqal mauta wal ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amala” — Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya (QS. Al-Mulk: 2). Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia adalah arena ujian, bukan tempat akhir dari kebahagiaan manusia. Karena itu, dalam realitas kehidupan kita selalu menemukan kekurangan: ada keadilan yang belum sempurna, ada harapan yang tidak tercapai, ada cita-cita yang kandas di tengah jalan. Bahkan orang yang memiliki kekuasaan, kekayaan, atau popularitas sekalipun tidak pernah sepenuhnya terbebas dari kegelisahan dan ketidakpastian. Dunia selalu menyimpan sisi rapuhnya.
Nabi Muhammad Saw juga mengingatkan umatnya agar tidak menaruh harapan kesempurnaan pada kehidupan dunia. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Kun fid-dunya ka’annaka gharībun au ‘ābiru sabīl” — Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seperti seorang pengembara (HR. Bukhari). Hadis ini mengajarkan sikap batin yang jernih: dunia bukan rumah yang permanen, melainkan tempat singgah sementara. Karena itu, kekecewaan, kesedihan, dan kegagalan yang kita temui dalam kehidupan seharusnya tidak membuat manusia putus asa. Semua itu adalah bagian dari ujian yang menyertai perjalanan hidup. Jika dunia memang diciptakan sempurna, tentu manusia tidak akan pernah merasakan kehilangan, penderitaan, atau ketidakadilan. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Justru ketidaksempurnaan itulah yang menjadi panggung bagi manusia untuk menunjukkan kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman.
Para ulama dan pujangga Muslim sejak dahulu telah menyadari hakikat ini. Imam Al-Ghazali pernah menggambarkan dunia sebagai tempat yang selalu berubah dan tidak stabil, sehingga orang yang terlalu bergantung padanya akan mudah terombang-ambing oleh keadaan. Sementara itu, pujangga besar Jalaluddin Rumi menulis bahwa dunia hanyalah bayangan yang sementara, sedangkan hakikat kehidupan berada pada perjumpaan manusia dengan Tuhan. Dalam tradisi sastra Islam, dunia sering digambarkan seperti persinggahan seorang musafir yang hanya berhenti sejenak untuk mengumpulkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan panjang. Gambaran ini menunjukkan kesadaran spiritual bahwa dunia bukan tujuan akhir, melainkan jembatan menuju kehidupan yang lebih hakiki.
Kesempurnaan yang sejati hanya dijanjikan Allah Swt di akhirat. Al-Qur’an menggambarkan kehidupan akhirat sebagai tempat di mana tidak ada lagi rasa takut dan kesedihan bagi orang-orang beriman. Firman Allah: “Lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn” — Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (QS. Al-Baqarah: 38). Di sanalah keadilan ditegakkan secara sempurna, kebaikan dibalas tanpa kekurangan, dan kebahagiaan tidak diiringi rasa kehilangan. Karena itu, seorang mukmin memandang dunia dengan sikap yang proporsional. Ia tetap berusaha memperbaiki kehidupan dunia—menegakkan keadilan, membantu sesama, dan membangun peradaban—tetapi tidak menuntut dunia menjadi tempat yang sepenuhnya ideal.
Jika hidup di dunia ini hanya sementara, mengapa manusia sering begitu rakus menumpuk harta dengan segala cara? Padahal kebutuhan hidup sebenarnya sangat terbatas. Rumah yang kita tempati hanya satu, kendaraan yang kita naiki pada satu waktu hanya satu, dan makanan yang kita konsumsi pun tidak lebih dari beberapa piring dalam sehari. Selebihnya hanyalah angka-angka yang menumpuk dalam rekening atau aset yang pada akhirnya tidak pernah benar-benar kita nikmati. Ketika kematian datang, semua itu pasti ditinggalkan. Harta tidak ikut masuk ke dalam liang kubur, kecuali amal yang dilakukan selama hidup. Karena itu, kesadaran bahwa hidup hanya sementara seharusnya membuat manusia lebih bijak dalam memandang harta: menjadikannya sebagai sarana kebaikan, bukan tujuan utama kehidupan.
Dengan kesadaran ini, manusia tidak mudah terjebak dalam keputusasaan ketika menyaksikan berbagai ketimpangan dan kesulitan dalam kehidupan. Ia memahami bahwa dunia memang tidak pernah dijanjikan sebagai surga. Dunia adalah ladang amal, tempat manusia menanam kebaikan yang kelak dipanen di akhirat. Kesempurnaan hidup bukanlah sesuatu yang dapat diraih sepenuhnya di bumi ini, tetapi sebuah janji ilahi yang menanti di kehidupan yang abadi.
Gresik, 23 Ramadhan 1447H/13 Maret 2026 M