Loading...
Ironi yang Menyentil Akal Sehat Pendidikan
14/01/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Keganjilan itu kini tak lagi sembunyi-sembunyi. Ia berdiri telanjang di hadapan akal sehat publik. Seorang sopir Program Makan Bergizi (MBG) berpeluang memperoleh status P3K dengan gaji sekitar dua hingga tiga juta rupiah, sementara guru honorer—yang saban hari mengajar, mendidik, membentuk watak dan masa depan anak-anak bangsa—masih dipaksa bertahan hidup dengan upah dua ratus hingga tiga ratus ribu rupiah per bulan. Ini bukan sekadar soal perbandingan profesi, melainkan soal cara negara menyusun skala nilai: siapa yang dianggap penting, dan siapa yang dianggap bisa terus berkorban tanpa batas.

Pendidikan sejatinya adalah kerja peradaban, bukan kerja sambilan. Guru honorer tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan disiplin, akhlak, nalar, dan harapan. Ironisnya, kerja yang bersifat jangka panjang dan menentukan arah bangsa justru dihargai paling murah. Negara tampak lebih sigap menjamin kesejahteraan mereka yang berurusan dengan logistik program, ketimbang mereka yang menjadi jantung hidup sistem pendidikan itu sendiri. Seolah-olah isi perut lebih mendesak daripada isi kepala, dan kebutuhan sesaat lebih penting daripada investasi masa depan.

Tentu tidak keliru bila negara memperhatikan gizi anak-anak. Program makan bergizi adalah kebutuhan nyata. Namun keganjilan muncul ketika perhatian itu tidak diimbangi dengan keberpihakan yang adil kepada para pendidik. Gizi tanpa pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang kuat secara fisik, tetapi rapuh secara nalar dan moral. Apa artinya perut kenyang jika ruang kelas tetap sunyi dari kesejahteraan guru, dan ilmu diajarkan dalam keadaan terhina oleh kemiskinan?

Masalah ini bukan soal iri, sebagaimana sering dituduhkan. Ini soal keadilan kebijakan. Negara seharusnya tidak menciptakan hierarki pengabdian yang timpang: yang satu dimuliakan oleh status dan gaji, sementara yang lain dipelihara dengan narasi “ikhlas” dan “pengabdian”. Keikhlasan bukan alasan untuk menormalisasi ketidakadilan struktural. Guru boleh ikhlas, tetapi negara tidak boleh abai.

Jika dunia pendidikan terus dikelola dengan logika tambal sulam seperti ini, kita sedang menyiapkan bom waktu peradaban. Anak-anak mungkin kenyang hari ini, tetapi masa depan mereka tetap terancam jika guru-gurunya hidup dalam ketidakpastian dan penghinaan ekonomi. Di titik inilah ironi itu menjadi terang: negeri ini rajin berbicara tentang masa depan, tetapi lalai menghormati mereka yang sedang membangunnya.

Gresik,  14 Januari 2026

Ketua Yayasan dan Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 

AHMAD CHUVAV IBRIY