Loading...
Jangan Membesarkan Seseorang dengan Mengecilkan Tokoh Besar
05/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Setelah membaca beberapa ulasan yang beredar tentang buku Islam Ala Prabowo, saya semakin penasaran dengan isi lengkapnya.


Sebab ternyata buku ini bukan semacam otobiografi spiritual Pak Prabowo, melainkan kumpulan tulisan sejumlah tokoh publik yang memberikan perspektif mereka tentang sisi keislaman dan kepemimpinan beliau.


Saya tentu belum membaca buku tersebut secara utuh. Karena itu, saya tidak ingin tergesa-gesa menilai isinya. Tetapi dari beberapa rangkuman yang sudah beredar, ada satu hal yang menurut saya patut direnungkan.


Kabarnya, dalam epilog, KH Asep Saifuddin Chalim membandingkan kepemimpinan Prabowo dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, terutama dalam hal ketegasan, keadilan, pengelolaan pemerintahan, dan keberpihakan kepada rakyat.


Kalau benar demikian, saya kira kita perlu berhati-hati dalam membuat perbandingan.


Bukan berarti seorang pemimpin tidak boleh dibandingkan dengan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Boleh saja. Bahkan perbandingan bisa menjadi cara untuk menunjukkan nilai atau karakter tertentu yang dianggap memiliki kemiripan.


Tetapi jangan sampai perbandingan itu menjadi terlalu tinggi dan terlalu mudah.


Umar bin Abdul Aziz bukan sekadar simbol ketegasan dan keadilan. Ia adalah seorang khalifah yang dalam sejarah Islam dikenang karena kezuhudan, amanah, keberanian melakukan koreksi terhadap kekuasaan, serta kesediaannya menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan keluarga dan dirinya sendiri.


Demikian pula Khalid bin Walid bukan sekadar representasi keberanian. Dan Umar bin Khattab bukan sekadar simbol ketegasan.


Mereka adalah tokoh-tokoh besar yang telah melewati ujian sejarah dengan pengorbanan, keteladanan, dan perjalanan panjang yang tidak sederhana.


Karena itu, saya khawatir jika seorang pemimpin masa kini terlalu mudah disejajarkan dengan mereka, justru tanpa kita sadari kita sedang mendegradasi kebesaran tokoh-tokoh tersebut.


Bukan karena pemimpin sekarang tidak mungkin memiliki sifat seperti mereka. Tetapi karena standar keteladanan para tokoh besar itu dibentuk oleh sejarah panjang dan tindakan nyata, bukan oleh penilaian atau pujian dari orang-orang di sekitarnya.


Kita tentu boleh mengatakan: “Dalam hal tertentu, ada sikap kepemimpinan Prabowo yang mengingatkan kita kepada Umar bin Abdul Aziz.”


Tetapi akan berbeda maknanya jika kemudian muncul kesan: Prabowo adalah Umar bin Abdul Aziz zaman sekarang.


Yang pertama adalah perbandingan sifat.


Yang kedua sudah mendekati penyamaan figur.


Begitu pula ketika keberanian seorang pemimpin dibandingkan dengan Khalid bin Walid, atau ketegasannya dengan Umar bin Khattab. Kita harus sadar bahwa di balik nama-nama besar itu terdapat sejarah perjuangan yang luar biasa panjang.


Ada satu prinsip sederhana yang menurut saya penting:


Jangan membesarkan seseorang dengan cara mengecilkan ukuran keteladanan orang-orang besar yang kita jadikan pembanding.


Pak Prabowo tidak perlu menjadi Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, ataupun Khalid bin Walid untuk menjadi pemimpin yang baik.


Biarlah Pak Prabowo menjadi Prabowo.


Kemudian sejarah yang akan menilai: apakah kepemimpinannya kelak layak dikenang sebagai kepemimpinan yang adil, berani, amanah dan berpihak kepada rakyat.


Dan kalau suatu hari sejarah benar-benar menempatkan beliau sejajar dalam kualitas keteladanan dengan tokoh-tokoh besar tersebut, **biarlah sejarah yang mengatakannya. Bukan kita yang terlalu cepat memberinya gelar. Ķita tunggu hingga tutup buku kepemimpinan Beliau. 


Sebab dalam tradisi Islam, memuji seseorang pun ada adabnya.


Dan kadang-kadang, pujian yang terlalu tinggi justru bukan penghormatan, melainkan beban yang kita letakkan di pundak seseorang.


Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb


Gresik,  5/9/2026


AHMAD CHUVAV IBRIY