KOLOM
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Kita sering berbicara tentang cinta tanah air. Tentang Merah Putih, NKRI, Pancasila, nasionalisme, dan persatuan. Semua terdengar gagah. Tetapi ada satu pertanyaan sederhana yang kadang justru kita lupakan: apakah kecintaan kepada bangsa membuat kita semakin mampu menghargai manusia?
Sebab Indonesia bukan hanya bendera yang kita kibarkan. Indonesia juga bukan sekadar tanah yang kita pertahankan batas-batasnya. Indonesia adalah manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Ada yang kaya dan miskin, kuat dan lemah, berkuasa dan tidak berdaya, sepemikiran dan berbeda pandangan.
Di situlah nasionalisme sebenarnya diuji.
Mudah mencintai Indonesia ketika yang kita lihat adalah upacara, bendera berkibar, lagu kebangsaan berkumandang, atau pertandingan olahraga ketika atlet Indonesia menjadi juara. Tetapi bagaimana ketika kita berhadapan dengan manusia yang berbeda pilihan dengan kita?
Apakah kita masih mampu menghormatinya?
Bagaimana ketika seseorang berada di posisi yang lebih lemah? Apakah kita tetap memperlakukannya dengan bermartabat? Bagaimana ketika bawahan melakukan kesalahan? Apakah ia harus dihina? Bagaimana ketika rakyat kecil berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan? Apakah hukum dan keadilan masih mempunyai wajah yang sama?
Nasionalisme yang hanya pandai mencintai simbol, tetapi gagal menghormati manusia, patut kita renungkan kembali.
Sebab pemahaman kebangsaan yang tidak menghargai kemanusiaan sama dengan bohong.
Pancasila sendiri telah memberikan arah yang sangat jelas. Setelah Ketuhanan Yang Maha Esa, kita menemukan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Artinya, kecintaan terhadap bangsa tidak boleh berjalan tanpa perikemanusiaan. Nasionalisme Indonesia bukan nasionalisme yang membenarkan penghinaan, kekerasan, kesewenang-wenangan, atau perlakuan tidak adil terhadap sesama.
Islam bahkan lebih dahulu mengingatkan tentang kemuliaan manusia. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra’: 70).
Perhatikan: Allah menyebut Bani Adam. Manusia sebagai manusia memiliki kemuliaan yang harus dihormati.
Nabi Muhammad ﷺ juga pernah berdiri ketika jenazah seorang Yahudi lewat di hadapan beliau. Para sahabat mengingatkan bahwa jenazah itu adalah seorang Yahudi. Nabi kemudian bertanya:
أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟
“Bukankah ia juga seorang manusia?”
Kalimat pendek itu terasa sangat panjang jika kita renungkan.
Nabi mengajarkan bahwa perbedaan tidak otomatis menghapus kemanusiaan. Kita boleh berbeda agama, pilihan politik, organisasi, pandangan, bahkan kepentingan. Tetapi perbedaan itu tidak memberi kita izin untuk merendahkan martabat manusia.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, kadang terjadi hal yang ironis. Kita begitu mudah tersinggung ketika simbol bangsa dihina, tetapi tidak selalu tersinggung ketika manusia dihina. Kita marah ketika Merah Putih diperlakukan tidak hormat, tetapi kadang diam ketika orang miskin dipermalukan.
Kita berbicara keras tentang persatuan, tetapi mencaci orang yang berbeda pilihan.
Kita meneriakkan NKRI harga mati, tetapi mungkin lupa bahwa di dalam NKRI ada manusia yang hatinya juga harus dijaga.
Bukankah ini paradoks?
Nasionalisme yang sehat seharusnya membuat kita semakin manusiawi. Semakin mencintai Indonesia, semakin kuat keinginan kita agar tidak ada warga yang diperlakukan semena-mena. Semakin bangga menjadi bagian dari bangsa ini, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaga martabat sesama.
Kita tidak perlu memilih antara nasionalisme dan kemanusiaan. Keduanya justru harus berjalan bersama.
Cinta tanah air tanpa kemanusiaan bisa berubah menjadi fanatisme. Sebaliknya, kemanusiaan yang baik akan membuat nasionalisme memiliki wajah yang teduh: membela bangsa tanpa membenci manusia, menjaga negara tanpa merendahkan sesama, dan berbeda pendapat tanpa kehilangan adab.
Karena itu, sebelum bertanya apakah seseorang cukup nasionalis, mungkin kita perlu bertanya lebih sederhana: apakah ia masih mampu menghargai manusia?
Jangan sampai kita begitu sibuk membela Indonesia dalam kata-kata, tetapi melukai manusia Indonesia dalam kenyataan.
Sebab Indonesia bukan sekadar tanah yang kita pijak, bendera yang kita kibarkan, atau slogan yang kita teriakkan.
Indonesia adalah manusia yang hidup bersama kita.
Dan nasionalisme yang kehilangan kemanusiaan pada akhirnya hanyalah kebanggaan yang kehilangan hati.
Wallāhu al-Musta'ān
Gresik, 14/9/2026
AHMAD CHUVAV IBRIY
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik JATIM