Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Jika aku menjadi warga Amerika atau Israel yang masih memiliki nurani, aku akan turun ke jalan membawa poster besar dan berteriak lantang di depan gedung-gedung kekuasaan: “Jika kalian begitu berani menantang Iran, jangan hanya kirim anak-anak rakyat biasa ke medan perang! Kirim juga anak-anak dan cucu para elit yang membuat keputusan perang itu!” Terlalu lama sejarah menunjukkan satu pola yang sama: para penguasa berpidato tentang kehormatan dan keamanan, sementara yang mati di medan tempur adalah anak-anak keluarga biasa.
Perang selalu dipromosikan dengan kata-kata indah: patriotisme, keberanian, dan pengorbanan. Tetapi anehnya, pengorbanan itu hampir selalu diminta dari orang lain. Anak-anak rakyat kecil dipanggil menjadi tentara, meninggalkan keluarga, menghadapi peluru dan misil. Sementara anak-anak para pengambil keputusan menikmati hidup nyaman jauh dari bau mesiu dan suara ledakan. Jika perang memang dianggap mulia dan perlu, maka keadilan paling sederhana adalah: biarkan anak-anak para elit berdiri di barisan paling depan bersama yang lain.
Karena dunia sudah terlalu sering melihat ironi yang sama. Keputusan perang lahir dari ruang rapat yang hangat dan aman, tetapi akibatnya ditanggung oleh mereka yang tidak pernah ikut menentukan. Maka jika para pemimpin benar-benar yakin bahwa perang adalah jalan yang harus ditempuh, buktikan keberanian itu dengan cara yang paling jujur: jangan sembunyikan anak-anak dan cucu mereka di balik tembok kekuasaan. Kirim mereka ke medan yang sama, agar mereka merasakan sendiri harga dari setiap keputusan yang mereka buat.
Gresik, 19 Ramadhân 1447 H/9 Maret 2026 M
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik