Loading...
Kejenuhan dan Wajah Seorang Muslim
12/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy 


Ada masa ketika kita tidak sedang punya masalah besar, tetapi tiba-tiba merasa bosan dengan semuanya.

Bangun tidur, rasanya malas. Pergi bekerja, biasa saja. Bertemu orang, ingin cepat selesai. Membuka ponsel, tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik. Bahkan hal-hal yang biasanya menyenangkan pun terasa hambar.

Tidak sedang sakit. Tidak sedang punya persoalan serius. Tetapi hati seperti berkata, “Kok begini terus?”

Itulah kejenuhan.

Aneh memang. Kadang hidup kita baik-baik saja, tetapi kita sendiri yang merasa tidak baik-baik saja.

Saya kira, kejenuhan adalah salah satu bagian dari menjadi manusia. Kita tidak perlu malu mengakuinya. Bahkan orang yang kelihatannya paling bersemangat pun bisa mengalami titik ketika energinya menurun. Orang yang biasa memberi semangat kepada orang lain pun sesekali membutuhkan seseorang yang berkata kepadanya, “Sudahlah, istirahat dulu.”

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi mesin.

Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan kita:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu mempunyai hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang mempunyai hak haknya.”

Ada hak Tuhan yang harus kita tunaikan. Ada hak tubuh yang harus kita perhatikan. Ada hak keluarga yang harus kita berikan.

Karena itu, kalau sedang jenuh, mungkin kita tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Bisa jadi kita hanya membutuhkan istirahat.

Tetapi masalahnya, kejenuhan kadang tidak berhenti pada diri sendiri.

Orang yang jenuh bisa berubah menjadi mudah marah. Sedikit-sedikit tersinggung. Bertemu orang ingin menghindar. Ditanya sedikit menjawab ketus. Masalah kecil terasa besar. Bahkan orang yang tidak punya kesalahan apa-apa ikut terkena dampaknya.

Di sinilah seorang Muslim perlu berhati-hati.

Kita boleh jenuh. Tetapi jangan menjadikan kejenuhan sebagai alasan untuk kehilangan akhlak.

Kita boleh lelah. Tetapi jangan membuat orang lain ikut lelah hanya karena berhadapan dengan wajah kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Hadis ini menarik. Nabi tidak mengatakan bahwa setiap Muslim harus selalu bahagia. Nabi juga tidak menyuruh kita berpura-pura bahwa hidup selalu indah.

Tetapi senyum menunjukkan bahwa persoalan pribadi tidak harus selalu dibawa menjadi beban orang lain.

Barangkali inilah salah satu bentuk kedewasaan.

Kita sedang punya masalah, tetapi tetap berusaha tidak kasar. Kita sedang lelah, tetapi masih bisa menyapa. Kita sedang kecewa, tetapi tidak perlu membuat semua orang tahu bahwa kita sedang kecewa.

Bukan karena kita munafik.

Melainkan karena kita belajar mengendalikan diri.

Bukankah puasa juga mendidik kita demikian? Lapar dan haus tidak otomatis memberi kita izin untuk marah. Justru ketika tubuh sedang tidak nyaman, akhlak kita diuji.

Begitu pula kejenuhan.

Ia bukan hanya persoalan suasana hati. Ia bisa menjadi ujian kecil: apakah ketika hati kita sedang tidak nyaman, kita masih mampu menghadirkan kenyamanan bagi orang lain?

Saya kira, menjadi Muslim yang ceria tidak berarti harus tertawa sepanjang hari.

Ada orang yang wajahnya ceria tetapi hatinya sedang menangis. Ada pula orang yang pendiam tetapi penuh kebaikan. Jadi, jangan pula kita menghakimi orang yang sedang murung.

Yang perlu kita lawan bukan kesedihan, melainkan kehilangan harapan.

Yang perlu kita lawan bukan rasa lelah, melainkan keengganan untuk bangkit.

Dan yang perlu kita lawan bukan kejenuhan itu sendiri, melainkan ketika kejenuhan mulai menguasai cara kita melihat kehidupan.

Sesekali, mungkin kita perlu mengubah rutinitas. Jalan pagi. Bertemu sahabat. Membaca buku yang lama ditinggalkan. Duduk bersama keluarga. Pergi ke masjid bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga untuk menenangkan hati.

Dan tentu saja, berbicara kepada Allah.

Sebab ada kejenuhan yang tidak selesai hanya dengan hiburan.

Ada ruang kosong dalam hati yang memang hanya bisa diisi dengan kedekatan kepada-Nya.

Barangkali kita juga perlu mengingat satu hal sederhana: kehidupan yang sedang kita jalani sekarang mungkin adalah kehidupan yang dulu pernah kita doakan.

Kita dulu berdoa agar diberi pekerjaan. Sekarang kita jenuh dengan pekerjaan.

Kita dulu berdoa agar memiliki keluarga. Sekarang kita kadang jenuh dengan rutinitas keluarga.

Kita dulu ingin memiliki kesempatan untuk mengabdi. Sekarang kita lelah karena terlalu banyak yang harus dikerjakan.

Maka sebelum mengeluh terlalu jauh, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Jangan-jangan kita bukan sedang kekurangan nikmat. Jangan-jangan kita hanya terlalu lama lupa menghitungnya.

Kejenuhan boleh datang.

Tetapi jangan biarkan ia tinggal terlalu lama.

Sebab seorang Muslim bukan manusia yang tidak pernah lelah, tidak pernah sedih, dan tidak pernah bosan.

Seorang Muslim adalah manusia yang, setelah lelah, tahu ke mana harus kembali.

Boleh kehilangan tenaga. Jangan kehilangan arah. Boleh kehilangan mood. Jangan kehilangan syukur. Dan boleh sesekali menangis—asal setelah itu kita masih punya alasan untuk tersenyum.

Wallāhu al-Musta'ān 

Ahmad Chuvav Ibriy 

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik