Puisi Esai
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Kepemimpinan bukan sekadar kursi,
bukan pula mikrofon yang memperbesar suara.
Ia adalah beban sunyi
yang dipikul di atas bahu nurani.
Di hadapan manusia, jabatan bisa terlihat megah.
Namun di hadapan Allah,
ia hanyalah titipan yang akan ditanya satu per satu.
Tidak ada kekuasaan yang kebal dari waktu.
Tidak ada keputusan yang luput dari catatan.
Allah mengingatkan:
“Inna Allaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsan.”
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan.” (QS. an-Naḥl: 90)
Keadilan bukan aksesoris kepemimpinan.
Ia adalah fondasinya.
Tanpa keadilan, kekuasaan berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Tanpa ihsan, kepemimpinan kehilangan ruhnya.
Sering kali orang takut kehilangan jabatan,
namun jarang yang takut kehilangan integritas.
Padahal yang pertama hanya soal waktu,
sedang yang kedua soal akhirat.
Waktu adalah hakim yang sabar.
Ia mencatat, ia menunggu, ia membuka tabir.
Betapa banyak yang dahulu berbuat zalim
merasa aman di balik kekuasaan,
namun bertahun-tahun kemudian
hukum dan sejarah menagih pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
“Wa tilkal ayyaamu nudaawiluhaa bainannas.”
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140)
Pergiliran itu pasti.
Tak ada kekuasaan yang abadi.
Tak ada kekuatan yang selamanya di atas.
Yang kekal hanyalah catatan amal.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Kullukum ra‘in wa kullukum mas’ulun ‘an ra‘iyyatihi.”
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar nasihat moral,
melainkan pengingat eksistensial:
bahwa kepemimpinan adalah amanah,
dan amanah selalu berdampingan dengan hisab.
Jabatan tidak menghapus tanggungan jawab.
Ia justru melipatgandakannya.
Semakin luas kuasa, semakin luas pula pertanyaan.
Allah menegaskan:
“Fa man ya‘mal mitsqaala dharratin khairan yarah.
Wa man ya‘mal mitsqaala dharratin syarran yarah.”
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7–8)
Tidak ada yang hilang.
Tidak ada yang terhapus.
Bahkan yang sehalus zarrah pun
akan dipertontonkan di hari hisab.
Imam al-Ghazali pernah mengingatkan:
Fasadur ra‘aya bi fasadil muluk,
wa fasadul muluk bi fasadil ‘ulama.
Rusaknya rakyat karena rusaknya pemimpin,
dan rusaknya pemimpin karena rusaknya penjaga moral dan ilmu.
Maka kepemimpinan sejati bukan tentang popularitas,
melainkan tentang keberanian bersikap adil
meski sendirian.
Bukan tentang seberapa lama berkuasa,
melainkan tentang seberapa bersih saat meninggalkannya.
Ada hari ketika orang yang memilih kebaikan
justru disisihkan.
Ada masa ketika integritas terasa seperti kesepian.
Namun kesepian dalam kebenaran
lebih mulia daripada keramaian dalam kebatilan.
Karena di akhir perjalanan,
yang berdiri bukanlah jabatan,
bukan pula protokoler dan kekuasaan.
Yang berdiri adalah diri kita sendiri
di hadapan Allah,
dengan seluruh keputusan yang pernah kita ambil.
Kepemimpinan adalah jembatan
antara dunia dan akhirat.
Di satu sisi ada amanah,
di sisi lain ada hisab.
Dan di tengahnya—
ada hati yang harus memilih:
akan tunduk pada nafsu kekuasaan,
atau tunduk pada perintah Tuhan.
Semoga setiap kita yang diberi amanah,
kecil atau besar,
mampu menjaga diri dari kesewenang-wenangan,
menegakkan keadilan tanpa takut kehilangan,
dan menata niat sebelum menata kekuasaan.
Karena kekuasaan boleh sementara.
Namun hisab—
adalah selamanya.
Gresik, 7 Ramadhan 1447 H./25 Februari 2026 M.
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik JATIM