Loading...
KETIKA DATA TAK LAGI MENDENGAR WONG CILIK
14/09/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Kolom

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Ia tidak pernah merasa kaya. Tetapi suatu hari negara memberitahunya bahwa ia sudah sejahtera.

Namanya sebut saja Pak Ngatimin. Buruh tani di sebuah kampung di kaki perbukitan. Rumahnya sederhana. Penghasilannya tidak tetap. Kalau ada orang membutuhkan tenaganya, ia bekerja. Kalau tidak ada, ia menunggu sambil mengurus kebun kecil di belakang rumah.

Anaknya empat. Yang pertama mondok. Tiga lainnya masih sekolah, dari SD sampai SMA. Istrinya, Yu Painah, sesekali menerima cucian dari tetangga untuk menambah penghasilan.

Hidupnya pas-pasan. Tetapi ia tidak pernah merasa menjadi orang paling miskin. Ia masih bisa bekerja, makan, beribadah, dan bersyukur.

Sampai suatu hari ia diberi tahu bahwa beberapa bantuan yang selama ini diterimanya tidak lagi bisa didapatkan karena namanya masuk kategori desil yang dianggap lebih sejahtera.

Pak Ngatimin bingung.

Sejahtera dari mana?

Beras tetap harus dibeli. Listrik tetap harus dibayar. Anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Yang mondok tetap membutuhkan biaya. Penghasilan tetap tidak menentu.

Ia tidak mengerti apa itu desil. Ia juga tidak paham bagaimana sebuah angka bisa mengubah keadaan hidup seseorang. Yang ia tahu, dapurnya masih harus mengepul.

Akhirnya ia menemui orang yang paling dekat dengannya: kiai kampung.

Bukan PBNU. Bukan pengurus pusat. Bukan tokoh yang sering muncul di televisi.

Kiai kampung.

Pak Ngatimin bercerita panjang. Kiai mendengarkan. Tetapi setelah mendengar semuanya, sang kiai justru terdiam.

Bukan karena tidak peduli.

Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa.

Ia bukan pejabat yang bisa mengubah data. Bukan petugas yang bisa membuka sistem. Bukan pula ahli yang memahami seluruh mekanisme pendataan sosial.

Di situlah persoalannya.

Kiai kampung sangat dekat dengan rakyat, tetapi belum tentu cukup berdaya menghadapi persoalan rakyat yang semakin rumit.

Padahal warga seperti Pak Ngatimin tidak pernah berpikir untuk mengadu kepada PBNU ketika hidupnya sedang susah. Mereka datang kepada orang yang mereka kenal. Orang yang rumahnya dekat. Orang yang memimpin doa ketika ada kematian, menikahkan anak mereka, mengajari mengaji, memberi nasihat ketika rumah tangga bermasalah, dan sesekali membantu ketika tetangganya tidak punya beras.

Kiai kampung.

Karena itu, kalau kita sungguh-sungguh berbicara tentang pemberdayaan grassroot, perhatian kepada kiai kampung tidak boleh berhenti pada menjadikan mereka imam, khatib, guru ngaji, atau penggerak jamaah.

Mereka juga perlu diberdayakan untuk mendampingi masyarakat menghadapi persoalan sosial.

Bukan berarti kiai kampung harus berubah menjadi birokrat. Bukan pula harus menjadi ahli semua urusan. Tetapi mereka perlu memiliki pengetahuan dasar, jaringan, dan akses untuk membantu warga ketika berhadapan dengan administrasi, bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, dan berbagai persoalan kemasyarakatan lainnya.

Sebab zaman telah berubah.

Dulu warga mungkin cukup datang kepada kiai untuk meminta nasihat. Sekarang, kadang-kadang mereka datang membawa masalah yang jawabannya tidak cukup dengan nasihat.

Mereka membawa surat. Membawa data. Membawa aplikasi. Membawa nomor identitas. Membawa persoalan yang jawabannya ada di dalam sistem yang bahkan tidak mereka pahami.

Maka kiai kampung juga harus diperkuat.

Agar ketika Pak Ngatimin datang dan berkata, “Yai, saya katanya sudah sejahtera,” sang kiai tidak hanya bisa mengelus dada.

Ia bisa berkata, “Mari kita lihat. Kita cari tahu. Kita dampingi.”

Data memang penting. Negara tidak mungkin bekerja tanpa data. Sistem digital juga diperlukan agar bantuan lebih tepat sasaran.

Tetapi data bukan kenyataan itu sendiri.

Orang bisa terlihat cukup dalam database, tetapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rumahnya mungkin masih berdiri, tetapi penghasilannya tidak menentu. Anak-anaknya tetap sekolah, tetapi biaya pendidikan menjadi beban. Secara administratif mungkin tampak sejahtera, tetapi secara nyata masih berjuang.

Karena itu, ketika data tidak sesuai dengan kenyataan, harus ada orang yang berani mengatakan: “Coba lihat lagi. Di lapangan tidak seperti itu.”

Dan orang yang paling dekat untuk mengatakan itu adalah kiai kampung.

Pak Ngatimin mungkin tidak memahami desil. Ia hanya tahu bahwa kehidupannya tidak berubah menjadi lebih sejahtera hanya karena sebuah angka mengatakan demikian.

Ia juga tidak meminta kiai kampung menjadi pejabat negara. Ia hanya berharap ketika negara mengatakan dirinya sejahtera, ada seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya dan berkata, “Mari kita lihat kenyataannya.”

Di sinilah wajah organisasi kemasyarakatan seperti NU sesungguhnya diuji.

Jangan hanya berbicara tentang wong cilik dari podium. Jangan hanya menjadikan mereka objek pendataan atau jamaah kegiatan.

Berdayakan orang-orang yang setiap hari bersentuhan dengan mereka.

Sebab bagi Pak Ngatimin, PBNU mungkin terasa jauh. Tetapi kiai kampung hanya beberapa langkah dari rumahnya.

Dan ketika rakyat datang mengetuk pintu rumah kiai karena negaranya mengatakan ia sudah sejahtera, jangan sampai kiai hanya bisa menjawab dengan doa.

Doa tetap penting. Tetapi wong cilik juga membutuhkan pendampingan.

Sebab negara boleh semakin pintar menghitung.

Tetapi jangan sampai manusia kalah oleh angka.

Wallāhu al-Musta'ān 

Gresik,  14/9/2026


AHMAD CHUVAV IBRIY 

Wong Kampung



https://www.facebook.com/share/p/191jKfvw1f/