Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Kasus seorang dokter yang diduga melontarkan komentar tidak pantas terhadap pasien BPJS di media sosial telah memantik kemarahan publik. Terlepas dari proses hukum, etik, maupun disiplin kepegawaian yang sedang berjalan, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar untuk kita renungkan: mengapa pendidikan yang begitu tinggi tidak selalu berhasil melahirkan pribadi yang matang, santun, dan berempati?
Bukankah seorang dokter menempuh perjalanan pendidikan yang panjang? Bertahun-tahun mempelajari anatomi, fisiologi, farmakologi, hingga etika profesi. Namun, mengapa di ruang publik kita justru sering menyaksikan orang-orang bergelar akademik tinggi kehilangan kendali atas ucapan dan perilakunya?
Inilah cermin yang perlu diarahkan kepada dunia pendidikan kita.
Selama ini, pendidikan kita tampaknya terlalu berhasil mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang dewasa secara moral. Nilai akademik dijadikan ukuran utama keberhasilan, sementara pendidikan karakter sering kali hanya menjadi slogan yang tertulis di dinding kelas.
Kita mengagumi indeks prestasi, tetapi lupa mengukur indeks empati. Kita bangga dengan gelar, tetapi kurang memberi ruang bagi pembentukan adab. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama selalu menempatkan adab sebelum ilmu. Imam Malik bahkan pernah berpesan agar seseorang belajar adab terlebih dahulu sebelum memperdalam ilmu. Sebab ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi alat yang melukai sesama.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada profesi dokter. Kita juga menyaksikan akademisi, pejabat, pengacara, dosen, bahkan tokoh publik yang sangat terdidik, tetapi mudah menghina, merendahkan, dan memaki orang lain di media sosial. Mereka memiliki kecakapan berpikir, tetapi miskin kecakapan mengendalikan diri.
Media sosial semakin memperlihatkan kenyataan tersebut. Di sana gelar akademik tidak otomatis menghadirkan kewibawaan. Justru karakter asli seseorang sering kali muncul ketika ia merasa bebas berkomentar tanpa bertatap muka. Apa yang diketik dengan jari sering kali menjadi cerminan dari apa yang tersimpan di dalam hati.
Memang ada yang berpendapat bahwa tekanan kerja dokter sangat berat. Jadwal yang panjang, beban pasien yang tinggi, serta tuntutan profesi yang nyaris tanpa jeda dapat memicu kelelahan fisik maupun mental. Alasan itu patut dipahami. Namun, empati tidak boleh ikut tumbang bersama rasa lelah. Di sinilah kita layak bertanya, "Masih lelah mana dengan dokter yang bekerja sepanjang hari, atau pasien yang berjam-jam menahan sakit, kecemasan, bahkan mempertaruhkan nyawanya?" Pertanyaan ini bukan untuk memperhadapkan dokter dengan pasien, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap profesi pelayanan lahir justru untuk menemani mereka yang sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya. Ketika rasa lelah mulai mengalahkan belas kasih, saat itulah profesionalisme kehilangan maknanya.
Karena itu, sudah saatnya perguruan tinggi melakukan evaluasi yang lebih mendasar. Kampus tidak cukup hanya menjadi pabrik penghasil ijazah dan tenaga profesional. Kampus harus kembali menjadi tempat pembentukan manusia seutuhnya. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada mata kuliah etika yang hanya dihafalkan menjelang ujian. Ia harus hadir dalam budaya akademik, keteladanan dosen, dan sistem pembinaan mahasiswa.
Demikian pula organisasi profesi harus terus menanamkan bahwa profesionalisme tidak hanya diukur dari kompetensi teknis, tetapi juga dari kemampuan menjaga empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Seorang dokter tidak hanya mengobati penyakit, tetapi juga menghadirkan harapan bagi pasien dan keluarganya.
Kasus ini akhirnya menjadi pengingat bahwa gelar akademik bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin rendah hati. Semakin luas pengetahuan, semakin halus tutur kata. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi lebih membutuhkan orang yang bijaksana.
Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang hanya menghasilkan sarjana, dokter, insinyur, atau profesor. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan manusia yang mampu menjaga lisannya, mengendalikan emosinya, menghormati sesamanya, dan menghadirkan kasih sayang di tengah masyarakat. Sebab pada akhirnya, yang paling lama dikenang bukanlah gelar yang disandang, melainkan akhlak yang ditinggalkan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM