Loading...
Ketika Langit Membuka Pintu Ampunan: Mencari Lailatul Qadr
12/03/2026 Admin Yayasan Bagikan:

(Puisi Esai tentang Lailatul Qadr)

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Ramadhan selalu datang

dengan langkah yang berbeda dari bulan-bulan lain.

Siangnya mendidik manusia menahan diri—

menahan lapar,

menahan dahaga,

dan yang lebih sulit:

menahan amarah serta kesombongan hati.

Malamnya dipenuhi cahaya ibadah:

suara ayat Al-Qur’an yang dibaca perlahan,

dzikir yang bergulir seperti embun,

dan doa-doa yang meluncur pelan

menuju langit yang tidak pernah tertutup.

Namun di antara seluruh malam Ramadhan,

ada satu malam yang berdiri sendirian

dalam kemuliaannya.

Malam itu bernama

Lailatul Qadr.

Allah Swt berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.

Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.

Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.”

(QS. Al-Qadr: 1–5)

Seribu bulan.

Jika dihitung dengan kehidupan manusia,

itu lebih dari delapan puluh tahun.

Artinya:

satu malam ibadah

dapat lebih bernilai

daripada hampir seluruh umur manusia.

Di sinilah terlihat

betapa luas kasih sayang Allah Swt

kepada umat Nabi Muhammad Saw.

Umat yang umurnya relatif pendek

dibukakan pintu

yang nilainya melampaui zaman.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan iman dan penuh harap kepada Allah,

diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(HR. Bukhari)

Tetapi Nabi tidak hanya berbicara tentang amal.

Beliau berbicara tentang hati.

Iman.

Dan ihtisab.

Iman adalah keyakinan penuh kepada Allah.

Sedangkan ihtisab adalah berharap pahala

hanya dari-Nya.

Karena itu,

Lailatul Qadr tidak diukur dari

berapa lama seseorang berdiri dalam shalat,

atau berapa banyak ayat yang dibaca.

Ia diukur

oleh kejujuran hati manusia

di hadapan Tuhannya.

Yang menarik,

Rasulullah Saw tidak memberitahu

secara pasti

kapan malam itu datang.

Beliau hanya bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil

di sepuluh malam terakhir Ramadhan.”

(HR. Bukhari)

Seakan Allah Swt

tidak ingin manusia

mencari satu malam saja.

Allah ingin manusia

mencari-Nya.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan

adalah undangan panjang dari langit.

Namun manusia modern

sering justru sibuk pada saat itu.

Pusat-pusat perbelanjaan penuh.

Pasar-pasar ramai.

Jalan-jalan dipadati kendaraan.

Manusia sibuk menyiapkan pakaian baru

untuk hari raya,

tetapi lupa membersihkan hatinya

untuk bertemu Tuhannya.

Malam-malam Ramadhan

yang mungkin menyimpan Lailatul Qadr

berlalu

tanpa disadari.

Padahal tidak ada satu pun manusia

yang memiliki jaminan

akan bertemu Ramadhan berikutnya.

Lailatul Qadr

sebenarnya adalah peristiwa ilahiyah.

Ia bukan kenaikan kursi politik.

Bukan naiknya jabatan.

Bukan bertambahnya kekuasaan.

Bukan pula keberhasilan meraih keuntungan materi.

Malam yang lebih baik daripada seribu bulan

bukanlah panggung ambisi dunia.

Ia adalah ruang sunyi

tempat manusia berdialog dengan Tuhannya.

Di sana

dosa-dosa diakui.

Air mata jatuh tanpa saksi.

Dan doa-doa dilangitkan

dengan harapan yang tulus.

Pada malam itu

para malaikat turun ke bumi.

Bayangkan:

langit seakan terbuka

dan bumi dipenuhi kedamaian.

Tidak ada malam lain

yang memiliki suasana seperti itu.

Barangkali di suatu sudut masjid kecil,

ada seorang tua yang berdoa

dengan suara bergetar.

Barangkali di rumah sederhana,

ada seorang ibu yang menangis

memohon masa depan anak-anaknya.

Barangkali ada pemuda

yang diam-diam meminta ampun

atas masa lalunya.

Tidak ada yang tahu

malam mana

doa-doa itu menembus langit.

Tetapi pada Lailatul Qadr

Allah Swt membuka pintu ampunan

lebih luas daripada biasanya.

Karena itu,

Lailatul Qadr pada akhirnya

bukan hanya tentang pahala.

Ia adalah titik balik kehidupan.

Malam ketika manusia

menata kembali arah hidupnya.

Malam ketika seorang hamba berkata:

“Ya Allah,

masa lalu saya penuh kekeliruan.

Tetapi malam ini

saya ingin memulai kehidupan yang baru.”

Dan jika doa itu lahir dari hati yang jujur,

maka satu malam itu

dapat mengubah

seluruh perjalanan hidup manusia.

Di tengah dunia yang gaduh

dan penuh ambisi,

Lailatul Qadr hadir seperti undangan sunyi dari langit.

Undangan untuk kembali.

Undangan untuk memperbaiki diri.

Undangan untuk mendekat kepada Tuhan.

Dan bagi mereka yang menyambutnya

dengan iman dan harapan,

malam itu

bisa menjadi malam

yang mengubah takdir manusia.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian

MUI Kabupaten Gresik, Jawa Timur


Gresik, 22 Ramadhan 1447H/12 Maret 2026

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM