Loading...
Ketika Seorang Murid Mengajarkan Negara Tentang Prioritas
04/04/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 

Surat yang ditulis oleh ananda Muhammad Rafif Arsya Maulidi ini bukan sekadar curahan hati seorang pelajar, tetapi cermin kejernihan nurani dan kedewasaan berpikir yang jarang kita temukan di usia sebegitu muda. Ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi telah sampai pada tingkat menghargai makna pendidikan itu sendiri: bahwa di balik setiap ilmu yang ia terima, ada pengorbanan guru yang sering kali tak terbalaskan secara layak.

Ungkapan “guru adalah sosok setelah orang tua” dalam surat itu bukan basa-basi. Ia hadir sebagai kesadaran yang lahir dari pengalaman hidup. Dan di titik inilah kita melihat bahwa benar adanya: guru yang hebat tidak hanya melahirkan siswa yang pintar, tetapi juga siswa yang berjiwa besar. Rafif telah menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai akademik, melainkan dari tumbuhnya empati, adab, dan keberanian moral.

Namun demikian, sikap mulia ini sekaligus menjadi cermin bagi negara. Ketika seorang pelajar sampai harus “mengorbankan” haknya sendiri demi guru, maka sesungguhnya ada pesan sunyi yang sedang ia kirimkan: bahwa sistem belum sepenuhnya berpihak secara adil kepada para pendidik. Program seperti Makan Bergizi Gratis tentu lahir dari niat baik negara untuk menjamin kesehatan generasi muda. Akan tetapi, surat ini mengingatkan kita bahwa kesejahteraan guru bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama.

Dalam tradisi keilmuan Islam, guru (mu‘allim) bahkan ditempatkan pada derajat yang sangat tinggi. Imam al-Ghazali dalam kitab At-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk menegaskan bahwa keberlangsungan peradaban sangat bergantung pada kemuliaan orang-orang yang mengajarkan ilmu. Jika mereka dilemahkan secara ekonomi, maka yang terancam bukan hanya individu guru, tetapi masa depan bangsa itu sendiri.

Karena itu, aspirasi Rafif seharusnya tidak dibaca secara literal sebagai “penolakan bantuan”, melainkan sebagai kritik moral yang halus namun tajam. Ia tidak sedang menolak negara, tetapi sedang mengingatkan negara tentang prioritas. Ia tidak sedang melawan kebijakan, tetapi sedang memperkaya arah kebijakan dengan suara hati seorang pelajar.

Di sisi lain, kita juga perlu berhati-hati agar idealisme seperti ini tidak menjadi pembenaran bagi negara untuk melepaskan tanggung jawabnya. Jangan sampai ketulusan anak-anak kita justru menutupi kewajiban struktural pemerintah dalam menjamin dua hal sekaligus: gizi siswa dan kesejahteraan guru. Keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua pilar yang harus ditegakkan bersama.

Maka, tanggapan yang paling tepat atas surat ini bukan sekadar pujian—meskipun ia layak mendapatkan itu. Yang lebih penting adalah menjadikannya sebagai momentum refleksi nasional: sudahkah kita memuliakan guru sebagaimana mestinya? Sudahkah kebijakan pendidikan kita berpijak pada penghormatan terhadap mereka yang menjadi jantung proses belajar?

Kepada ananda Rafif, kami sampaikan: engkau telah menunjukkan bahwa menjadi “siswa hebat” bukan hanya soal kecerdasan, tetapi tentang keberanian untuk peduli dan bersuara. Semoga sikap ini tidak padam, dan semoga pula para pemegang kebijakan mampu menangkap pesan jernih yang engkau sampaikan.

Dan kepada para guru: dari ruang-ruang kelas sederhana, dari keikhlasan yang sering tak terlihat, ternyata lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati. Itulah bukti paling nyata bahwa pengabdian Anda tidak pernah sia-sia.


Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik ; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM