Seorang kiai turun dari mobil. Di depan masjid, beberapa jamaah sudah menunggu. Ia menyalami satu per satu tangan yang terulur. Ketika seorang lelaki tua datang belakangan, sang kiai justru menghampirinya lebih dulu. Tidak ada mikrofon. Tidak ada kamera. Tidak ada ceramah.
Tetapi mungkin, pada saat itulah sebuah pelajaran agama sedang berlangsung.
Umat sering datang kepada pemuka agama untuk mendengar nasihat. Tentang kejujuran, kesabaran, tawaduk, kasih sayang, sedekah, menghormati orang tua, dan mencintai sesama. Nasihat itu penting. Tetapi ada sesuatu yang sering kali lebih kuat daripada nasihat: keteladanan.
Seorang guru boleh berbicara satu jam tentang kesabaran. Namun murid akan lebih mudah memahami kesabaran ketika melihat gurunya tidak mudah marah menghadapi kesalahan mereka.
Seorang kiai dapat menjelaskan panjang lebar tentang tawaduk. Tetapi santri mungkin lebih mengingat bagaimana kiainya duduk bersama mereka, makan bersama, dan tidak merasa dirinya terlalu tinggi untuk mendengarkan keluhan seorang santri.
Begitulah manusia belajar. Tidak semuanya melalui telinga. Sebagian besar justru melalui mata.
Ada sebuah ungkapan Arab yang sangat tepat untuk menggambarkan hal itu:
لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ
Lisānul-hāli afṣahu min lisānil-maqāl.
Artinya:
“Bahasa keadaan lebih fasih daripada bahasa perkataan.”
Perilaku seseorang sering kali berbicara lebih jelas daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Anak melihat orang tuanya. Santri melihat kiainya. Jamaah melihat ustaznya. Masyarakat melihat tokoh yang selama ini mereka hormati.
Karena itu, seorang pemuka agama sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai berceramah. Bahkan ketika mikrofon sudah dimatikan, jamaah masih membaca perilakunya.
Mereka melihat bagaimana ia memperlakukan orang miskin. Mereka melihat bagaimana ia berbicara kepada orang yang berbeda pendapat. Mereka memperhatikan bagaimana ia bersikap ketika mendapat kritik. Mereka juga melihat bagaimana ia menggunakan harta, menyikapi jabatan, dan memperlakukan orang yang tidak mempunyai kekuasaan.
Di sinilah keteladanan menjadi penting.
Nasihat mengatakan: “Jangan sombong.”
Perilaku berkata: “Lihatlah bagaimana saya memperlakukan orang lain.”
Nasihat mengatakan: “Jangan berlebihan mencintai dunia.”
Perilaku bertanya: “Bagaimana engkau menggunakan apa yang Allah titipkan kepadamu?”
Bukan berarti seorang kiai, ustaz, atau tokoh agama harus menjadi manusia tanpa kesalahan. Mereka tetap manusia. Bisa lupa, bisa khilaf, bahkan bisa jatuh pada kesalahan.
Justru ketika seseorang berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri, di sana pun terdapat keteladanan.
Sebab keteladanan bukanlah kesempurnaan. Keteladanan adalah kesungguhan untuk berusaha agar apa yang diucapkan tidak terlalu jauh dari apa yang dilakukan.
Umat sebenarnya tidak membutuhkan tokoh agama yang hanya pandai berbicara. Umat membutuhkan orang yang ketika berbicara tentang kasih sayang, ia juga menunjukkan kasih sayang. Ketika berbicara tentang keadilan, ia berusaha berlaku adil. Ketika mengajarkan kesederhanaan, ia tidak menjadikan agama sebagai panggung untuk mempertontonkan kemewahan.
Ada kalanya sebuah tindakan sederhana justru lebih membekas daripada puluhan ceramah.
Memberi tempat duduk kepada orang tua.
Menyapa pedagang kecil.
Mendengarkan keluhan jamaah tanpa melihat status sosialnya.
Tidak mempermalukan orang yang sedang melakukan kesalahan.
Mau meminta maaf ketika keliru.
Hal-hal kecil semacam itu mungkin tidak pernah masuk kamera. Tetapi bisa tinggal lama dalam ingatan umat.
Kita sering bertanya mengapa generasi muda kehilangan figur teladan. Mungkin pertanyaannya perlu dibalik: sudahkah orang-orang yang berada di depan mereka memberikan cukup banyak contoh untuk dilihat?
Sebab agama tidak hanya diwariskan melalui kitab dan mimbar. Ia juga diwariskan melalui perilaku.
Seorang santri mungkin lupa isi ceramah kiainya lima tahun lalu. Seorang jamaah mungkin tidak lagi mengingat tema pengajian yang pernah didengarnya. Tetapi mereka bisa sangat lama mengingat bagaimana seorang kiai memperlakukan mereka ketika tidak ada mikrofon, ketika tidak ada kamera, dan ketika tidak ada siapa pun yang sedang menonton.
Pada saat itulah, keteladanan bekerja dalam diam.
Dan mungkin, itulah dakwah yang paling sulit sekaligus paling jujur: menjadi contoh sebelum meminta orang lain mengikuti.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb