Loading...
Ketika Umat Mulai Menjauh dari Kitabnya
06/03/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy 

Peringatan Nuzulul Qur’an setiap bulan Ramadan seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan pengajian semata. Peristiwa turunnya Al-Qur’an adalah momentum mengingatkan kembali bahwa kitab suci ini diturunkan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menjadi petunjuk hidup manusia. Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah “hudā lin-nās”, petunjuk bagi manusia. Karena itu, ketika umat Islam memperingati Nuzulul Qur’an, yang lebih penting dari sekadar mengenang tanggalnya adalah bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana Al-Qur’an benar-benar hadir dalam kehidupan kita.

Ironisnya, di tengah kemuliaan Al-Qur’an, tidak sedikit umat Islam yang secara perlahan justru menjauh darinya. Al-Qur’an sering hanya dibaca saat Ramadan, dihafal dalam perlombaan, atau dilantunkan dalam acara seremonial. Namun ketika berbicara tentang kehidupan sosial, keadilan, kejujuran, etika bermasyarakat, hingga cara menyelesaikan konflik, nilai-nilai Al-Qur’an sering tidak lagi menjadi rujukan utama. Inilah yang dahulu telah diingatkan oleh Al-Qur’an sendiri melalui keluhan Rasulullah: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan: 30).

Karena itu, memperingati Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan Al-Qur’an ke pusat kehidupan umat. Al-Qur’an harus hadir bukan hanya di mimbar, tetapi juga di pasar, di kantor, di ruang kekuasaan, dan dalam hubungan sosial masyarakat. Nilai kejujuran, keadilan, amanah, dan kepedulian sosial yang diajarkan Al-Qur’an harus menjadi ruh kehidupan bersama. Jika Al-Qur’an benar-benar dijadikan pedoman hidup, maka ia tidak akan pernah menjadi kitab yang ditinggalkan, melainkan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat sepanjang zaman.

Gresik 16 Ramadhan 1447 H/6 Maret 2026 M.

Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik