Perang hanya melahirkan luka; perdamaian menyelamatkan manusia.
Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Prediksi saya tentang perang Iran vs Amerika–Israel: jika perang berlangsung lama, Iran justru berpeluang menang. Bukan karena Iran lebih kuat secara teknologi dibanding Amerika, tetapi karena Iran telah mempersiapkan skenario perang panjang ini selama lebih dari dua dekade. Sejak awal 2000-an Iran menyadari bahwa konfrontasi dengan Amerika dan Israel hampir tak terelakkan, sehingga strategi militernya tidak dibangun untuk perang cepat, tetapi untuk perang ketahanan jangka panjang (war of attrition). Persenjataan rudal, drone, jaringan milisi regional, hingga sistem pertahanan bawah tanah dikembangkan sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan militer Barat.
Keunggulan Iran bukan pada dominasi udara, tetapi pada strategi asimetris. Iran memiliki ribuan rudal dan drone murah yang bisa terus diluncurkan dalam jangka panjang. Dalam perang modern, hal ini menciptakan “perang matematika”: Iran menembakkan drone yang relatif murah, sementara lawannya harus menembak jatuh dengan sistem pertahanan yang sangat mahal. Jika perang berlangsung lama, biaya perang bisa menjadi jauh lebih berat bagi Amerika dan sekutunya daripada bagi Iran.
Selain itu, Iran memiliki kedalaman geografis dan demografis yang besar. Wilayah Iran sangat luas dengan infrastruktur militer yang banyak tersembunyi di bunker dan fasilitas bawah tanah. Ini membuat serangan udara saja sulit menghancurkan seluruh kemampuan militernya. Bahkan sejumlah analis militer menilai bahwa serangan udara saja hampir tidak pernah berhasil menjatuhkan sebuah rezim tanpa invasi darat, sesuatu yang sangat sulit dan berisiko bagi Amerika di Timur Tengah.
Faktor lain adalah jaringan sekutu regional Iran seperti Hizbullah di Lebanon, milisi di Irak dan Suriah, serta kelompok di Yaman. Dalam konflik besar, perang tidak hanya terjadi di satu front, tetapi bisa meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Artinya, konflik dapat berubah menjadi perang kawasan yang sangat mahal secara politik dan ekonomi bagi Amerika dan Israel.
Namun demikian, di atas semua analisa militer ini, yang paling diharapkan sebenarnya bukan kemenangan siapa pun, tetapi berhentinya perang itu sendiri. Perang selalu meninggalkan korban rakyat sipil, kehancuran kota, dan penderitaan yang panjang. Jika Amerika dan Israel menghentikan serangan, maka alasan perang pun akan hilang dengan sendirinya. Jalan diplomasi dan perdamaian tetap jauh lebih bermartabat daripada kemenangan yang dibangun di atas puing-puing kemanusiaan.
Gresik, 20 Ramadhan 1447 H/9 Maret 2026 M