Puisi Esai
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Kami belajar sejarah
bukan untuk menghafal nama-nama perang,
melainkan agar lidah kami
tidak mudah mengulang luka.
Di ruang kelas,
guru bercerita tentang kolonialisme.
Tentang serdadu yang datang dari lautan.
Tentang rakyat yang dipaksa menanam,
dipaksa membayar,
dipaksa tunduk.
Tetapi sejarah juga mengenal
wajah-wajah sebangsa
yang memilih berdiri
di belakang cambuk penjajah.
Mereka disebut
Londo Ireng.
Bukan karena warna kulit.
Bukan pula karena darah.
Melainkan karena hati
yang dianggap berpaling
dari bangsanya sendiri.
---
Tahun berganti.
Bendera telah berubah.
Lagu kebangsaan telah berkumandang
di setiap pagi.
Namun kata-kata
ternyata masih mampu
membangunkan bayangan masa silam.
Ketika sebuah istilah kolonial
dihidupkan kembali
untuk menyebut mereka
yang berbeda pendapat,
sebagian orang terdiam.
Sebagian lagi bertanya,
"Apakah kritik kini
disamakan dengan pengkhianatan?"
---
Padahal,
demokrasi tumbuh
bukan hanya dari tepuk tangan.
Ia juga hidup
dari pertanyaan.
Ia bernapas
dari keberanian
mengingatkan penguasa
bahwa kekuasaan
selalu membutuhkan cermin.
Tanpa kritik,
seorang pemimpin
hanya mendengar gema suaranya sendiri.
---
Sejarah mengajarkan,
penjilat selalu ada.
Mereka memuji
bahkan ketika kapal bocor.
Mereka berkata
"semuanya baik-baik saja,"
meski rakyat mulai gelisah.
Ironisnya,
mereka sering bersembunyi
di balik pakaian kesetiaan.
Padahal,
kesetiaan yang sejati
adalah keberanian
mengatakan
bahwa ada yang keliru.
---
Kritik
bukan selalu kebencian.
Seperti dokter
yang mengatakan penyakit
bukan karena membenci pasien.
Seperti guru
yang memberi nilai rendah
agar murid mau belajar.
Seperti ulama
yang menegur penguasa
karena mencintai negeri.
Kritik yang jujur
adalah bentuk cinta
yang paling berani.
---
Maka berhati-hatilah
dengan setiap label.
Sebab satu kata
dapat berubah menjadi tembok.
Ia memisahkan rakyat
ke dalam kubu-kubu
yang saling mencurigai.
Padahal bangsa ini
dibangun bukan oleh mereka
yang selalu sepakat,
tetapi oleh orang-orang
yang berbeda jalan pikiran
namun tetap duduk
di meja yang sama.
---
Jangan biarkan
kosakata penjajahan
menjadi bahasa
sesama anak bangsa.
Karena kemerdekaan
tidak hanya berarti
terlepas dari rantai kolonial.
Kemerdekaan juga berarti
bebas menyampaikan pendapat
tanpa kehilangan kehormatan.
Dan pemimpin yang besar
bukanlah yang memiliki
pujian paling panjang.
Melainkan
yang mampu mendengar
kritik paling keras
tanpa kehilangan kebesaran jiwanya.
Sebab sejarah
tidak hanya mencatat
siapa yang berkuasa.
Ia juga mengingat
siapa yang menjaga
persaudaraan
di tengah perbedaan.
Wallāhu al-Musta'ān
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
05/08_2026
AHMAD CHUVAV IBRIY