Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Dulu, ketika seorang santri terlihat tersenyum sendirian di sudut kamar, teman-temannya mungkin akan bertanya, “Kamu kenapa?” Sekarang, pertanyaan itu mungkin tidak perlu diajukan. Bisa jadi ia sedang melihat video lucu di TikTok, membaca komentar di Instagram, atau sedang asyik berselancar di dunia maya.
Zaman memang berubah. Santri yang dulu akrab dengan kitab kuning, kini juga akrab dengan layar ponsel. Di dalam satu benda kecil itu tersimpan begitu banyak hal: kitab digital, ceramah kiai, berita, hiburan, pertemanan, bahkan godaan yang tidak pernah dibayangkan oleh santri zaman dahulu.
Karena itu, persoalannya sebenarnya bukan apakah santri boleh menggunakan media sosial atau tidak. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: untuk apa santri menggunakan media sosial?
Media sosial sebenarnya hanyalah alat. Ia tidak baik dan tidak buruk dengan sendirinya. Pisau bisa digunakan untuk memasak, tetapi bisa pula digunakan untuk melukai. Begitu juga media sosial. Ia bisa menjadi ladang dakwah, tetapi bisa pula menjadi ladang dosa.
Saya sering membayangkan, betapa besar manfaatnya jika para santri tidak hanya menjadi penonton di media sosial. Mereka memiliki sesuatu yang tidak semua orang punya: tradisi keilmuan, pengalaman hidup di pesantren, kedekatan dengan ulama, serta nilai-nilai adab.
Mengapa semua itu tidak dibawa ke ruang digital?
Santri bisa membuat video pendek tentang adab kepada guru. Bisa menulis pengalaman belajar kitab. Bisa menjelaskan istilah keislaman dengan bahasa sederhana. Bisa membuat konten tentang tradisi pesantren yang selama ini hanya diketahui oleh kalangan tertentu.
Sayangnya, terkadang kita justru melihat sebaliknya. Ada santri yang berjam-jam menggunakan media sosial, tetapi hampir tidak pernah menggunakannya untuk menyampaikan sesuatu yang bernilai. Jempolnya begitu aktif, tetapi pikirannya belum tentu ikut aktif.
Di sinilah tantangannya.
Pesantren tidak cukup hanya mengajarkan santri bagaimana menghindari konten buruk. Pesantren juga harus mengajarkan bagaimana menciptakan konten baik.
Sebab dunia digital tidak akan kosong hanya karena santri memilih diam.
Jika orang-orang baik tidak hadir, ruang itu akan tetap diisi oleh orang lain.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang. Santri tidak harus meninggalkan media sosial untuk menjadi santri yang baik. Yang harus ditinggalkan adalah kebiasaan menggunakan media sosial tanpa tujuan.
Kitab tetap dibaca. Ngaji tetap dijaga. Adab tetap menjadi dasar. Tetapi tangan santri juga boleh mengetik, kamera boleh merekam, dan suara santri boleh terdengar di ruang digital.
Sebab dakwah hari ini tidak hanya berlangsung di masjid, majelis taklim, atau mimbar. Sebagian dakwah juga berlangsung di layar yang setiap hari berada di tangan kita.
Pertanyaannya tinggal satu:
Ketika santri memegang ponsel, apakah dunia menjadi lebih baik karena kehadirannya—atau justru waktunya yang habis tanpa makna?
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 1 Setelah 2026