Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Mendidik anak laki-laki di era digital hari ini bukan
sekadar perkara memberi makan, menyekolahkan, lalu berharap waktu akan
membentuknya menjadi lelaki tangguh. Tidak sesederhana itu. Kita sedang
berhadapan dengan zaman yang tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga
cara berpikir, cara merasa, bahkan cara memandang makna hidup. Di tangan mereka
kini bukan lagi sekadar buku, tetapi layar yang membuka seluruh dunia—baik yang
terang maupun yang gelap.
Di sinilah letak tantangan terbesarnya: bagaimana membentuk
karakter laki-laki yang kokoh di tengah arus informasi yang nyaris tanpa batas
dan tanpa saring?
Anak laki-laki pada dasarnya membutuhkan ketegasan. Namun
ketegasan hari ini tidak cukup hanya berupa perintah dan larangan. Ia harus
dibarengi dengan keteladanan yang hidup. Anak laki-laki tidak hanya mendengar,
ia meniru. Ia tidak hanya menyerap kata-kata, tetapi merekam sikap. Ketika ayah
mudah menyerah, ia belajar kelemahan. Ketika ayah gagap menghadapi tantangan,
ia belajar keraguan. Sebaliknya, ketika ia melihat keteguhan, kesabaran, dan
keberanian, itulah yang akan tertanam dalam jiwanya.
Masalahnya, di era digital, figur teladan tidak lagi
tunggal. Anak laki-laki kita kini “diasuh” juga oleh algoritma. Mereka melihat
potongan-potongan kehidupan dari tokoh yang bahkan tidak mereka kenal secara
nyata. Dari sana mereka menyerap nilai: tentang kejantanan, tentang kesuksesan,
bahkan tentang relasi dengan perempuan. Jika orang tua lengah, maka nilai-nilai
itu akan dibentuk oleh dunia luar yang tidak selalu sejalan dengan akhlak dan
agama.
Karena itu, pengawasan tidak boleh dimaknai semata sebagai
pembatasan, tetapi sebagai pendampingan. Anak laki-laki tidak cukup hanya
dilarang bermain gawai, tetapi harus diajak memahami mengapa sesuatu itu baik
atau buruk. Mereka harus dilatih berpikir, bukan sekadar patuh. Sebab suatu
saat, ketika pengawasan itu hilang, yang tersisa hanyalah nilai yang telah
tertanam dalam dirinya.
Di sisi lain, anak laki-laki juga harus dibiasakan
menghadapi kesulitan. Era digital cenderung memanjakan: semua serba cepat,
instan, dan mudah. Padahal, karakter laki-laki justru ditempa dari proses yang
tidak nyaman. Ia harus pernah gagal, pernah ditolak, pernah merasa lelah—lalu
bangkit kembali. Tanpa itu, ia akan tumbuh rapuh, mudah goyah, dan kehilangan
daya juang.
Anak laki-laki harus diajarkan hidup di luar zona nyaman
agar ia tumbuh menjadi generasi yang tahan banting, bukan generasi yang hanya
kuat di kata-kata tetapi lemah saat berhadapan dengan realitas. Zona nyaman
adalah jebakan paling halus di era digital: semuanya tersedia, semuanya mudah,
dan semuanya bisa diulang tanpa konsekuensi nyata. Padahal kehidupan tidak
bekerja seperti itu. Dunia nyata menuntut keteguhan, kesabaran, dan keberanian
mengambil risiko. Karena itu, anak laki-laki perlu dilatih untuk merasakan
kerasnya proses: diberi tanggung jawab, dibiasakan menghadapi tekanan, bahkan
sesekali dibiarkan bergulat dengan kegagalan tanpa segera diselamatkan. Dari
situlah lahir mental pejuang, bukan mental pengeluh. Ia belajar bahwa harga
diri tidak dibangun dari kenyamanan, tetapi dari kemampuan bertahan dan
bangkit. Jika sejak kecil ia selalu dilindungi dari rasa tidak enak, maka saat
dewasa ia akan kaget menghadapi kenyataan. Namun jika ia sudah akrab dengan
kesulitan, maka hidup seberat apa pun tidak akan mudah merobohkannya.
Lebih jauh lagi, pendidikan spiritual tidak boleh
ditinggalkan. Di tengah kebisingan dunia digital, anak laki-laki membutuhkan
jangkar yang menenangkan: iman. Ia harus mengenal Tuhannya, memahami tujuan
hidupnya, dan menyadari bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua
yang populer itu bernilai. Tanpa fondasi ini, ia akan mudah terombang-ambing
oleh arus zaman.
Maka, mendidik anak laki-laki hari ini memang tidak mudah.
Ia menuntut kehadiran, kesabaran, dan kesungguhan yang lebih besar dari
sebelumnya. Tetapi di situlah letak kemuliaannya. Sebab dari tangan kita, akan
lahir generasi laki-laki yang bukan hanya cerdas secara digital, tetapi juga
kuat secara moral—yang tidak sekadar hidup di zaman ini, tetapi mampu memimpin
dan memperbaikinya.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 14 April 2026