Loading...
Mengasuh Anak di Era Digital
07/12/2025 Admin Yayasan Bagikan:

GresikPerubahan terbesar dalam hidup manusia hari ini bukan lagi gedung pencakar langit atau kota yang kian padat, melainkan munculnya ruang hidup kedua yang bernama dunia digital. Anak-anak tumbuh di dua alam sekaligus di rumah bersama keluarga, dan di layar bersama algoritma. Mereka belajar, bersosialisasi, mencari hiburan, bahkan membangun identitas diri di sana. Namun ruang kedua ini tidak pernah sepenuhnya aman. 

Di balik cahaya layar yang tampak menyenangkan, ada sisi gelap berupa risiko psikologis, sosial, dan moral yang sering tidak disadari oleh orang tua, guru, maupun tokoh agama. UNICEF memperingatkan bahwa dunia digital hanya menjadi aman jika konsekuensinya dipahami. Dan justru di sinilah letak kelalaian terbesar kita sebagai orang dewasa: terlalu percaya diri dalam ketidaktahuan.

Banyak orang tua mengira anak selamat selama mereka berada di rumah dengan ponsel di tangan. Padahal, kamar yang tenang sering menjadi titik masuk ancaman terbesar. Cyberbullying, eksploitasi, perundungan emosional, kecanduan, hingga akses ke konten yang merusak nilai moral dapat terjadi tanpa jejak fisik, tanpa tangis, tanpa teriakan, dan tanpa diketahui siapa pun. Tradisi keilmuan Islam selalu mengajarkan prinsip sadduz-zarā’i menutup pintu-pintu menuju kerusakan. 

Ironisnya, pintu itu kini justru dibiarkan terbuka lebar di tangan anak-anak dengan dalih “biar tidak tertinggal zaman.” Sikap permisif yang dibungkus alasan modernitas bukanlah kebijaksanaan, tetapi kelalaian yang dibayar oleh anak-anak melalui luka psikis dan moral yang tidak terlihat.

Teknologi tidak pernah ditakdirkan menggantikan peran cinta, perhatian, dan kontrol orang tua. UNICEF mencatat banyak orang tua mengaku kewalahan menghadapi perkembangan teknologi. Namun kewalahan bukan alasan untuk menyerah. 

Tantangan mengasuh anak di era digital bukan tentang melarang atau merampas ponsel, melainkan menata ulang pola kehadiran emosional kita. Waktu layar yang dibatasi tidak berguna jika relasi emosional di rumah tidak kuat. 

Anak yang merasa jauh dari orang tuanya akan mencari pelarian emosional di dunia digital, dan ruang virtual menawarkan pelukan palsu melalui hiburan, interaksi instan, dan konten yang menyenangkan tetapi menggerus nilai. Dunia maya dapat terlihat lebih memanjakan daripada dunia nyata, dan di saat itu karakter anak sedang dibentuk oleh nilai yang bukan berasal dari rumah.

Di sekolah, guru tidak cukup hanya menuntaskan kurikulum. Mereka menjadi penjaga masa depan generasi, terutama dalam konteks interaksi digital. Anak harus diberi ruang aman ketika mengalami perundungan online, guru harus memberi pemahaman mengenai konsekuensi interaksi digital, dan ruang kelas harus didesain dengan regulasi penggunaan gawai yang jelas serta konsisten. 

UNICEF menunjukkan bahwa anak-anak yang hidup dalam ekosistem sekolah yang suportif lebih kuat secara mental, lebih stabil menghadapi tekanan digital, dan tidak mudah terseret arus toksisitas jagat maya. Maka pendidikan digital bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan dasar untuk membentuk pribadi yang berdaya di dunia yang tanpa batas ini.

Tokoh agama pun memikul tanggung jawab besar. Mereka bukan hanya penyampai ajaran ibadah, tetapi penjaga moralitas publik. Realitasnya, maksiat modern lebih banyak lahir dari jari, bukan langkah kaki. 

Persoalan moral generasi hari ini lebih banyak terjadi di ruang maya ketimbang di dunia nyata. Karena itu, para kiai, ustadz, dan tokoh agama perlu mengarahkan masyarakat tentang etika digital: bagaimana berkomentar, berbagi konten, berinteraksi, hingga menjaga privasi dan martabat diri. 

Mereka harus mengingatkan bahaya pornografi, overdosis hiburan, manipulasi emosional, hingga komersialisasi data pribadi. Di saat ada keluarga atau anak yang menghadapi masalah digital, tokoh agama seharusnya menjadi rujukan yang bijak bukan sekadar pemberi nasihat normatif, tetapi pembimbing yang memahami realitas kehidupan era baru.

Inti persoalannya sebenarnya sederhana: dunia digital tidak akan pernah aman bila orang dewasa tidak hadir. UNICEF menggarisbawahi tiga fokus fundamental yang sepenuhnya sejalan dengan prinsip pendidikan Islam: memperkuat kelekatan emosional, membangun literasi digital, dan mengawasi konten serta interaksi anak, bukan sekadar perangkatnya. 

Anak membutuhkan tempat pulang bukan hanya rumah secara fisik, tetapi dekapan emosional. Mereka membutuhkan orang tua yang bukan hanya sibuk dengan gawai sendiri, tetapi mau mendengarkan. Mereka membutuhkan guru yang bukan hanya mengoreksi nilai, tetapi menguatkan mental. Mereka membutuhkan tokoh agama yang bukan hanya memerintah beribadah, tetapi membimbing bagaimana menjadi manusia berakhlak dalam dunia digital.

Persoalan ini bukan tentang ponsel atau internet. Dunia digital tidak akan berhenti dan tidak mungkin dihentikan. Pertanyaannya bukan lagi boleh atau tidak boleh, tetapi apakah kita hadir atau absen dalam proses pertumbuhan anak. Fasilitas tanpa bimbingan hanya akan menjadikan anak pandai berselancar tetapi miskin kendali diri. 

Larangan tanpa kedekatan hanya menjadikan anak takut, bukan dewasa. Nasehat tanpa keteladanan hanya terdengar seperti ceramah kosong di telinga mereka. Anak-anak tidak menuntut perangkat yang lebih canggih; mereka menunggu orang dewasa yang lebih peduli.

Keamanan moral, mental, dan spiritual generasi digital bukan diberikan oleh teknologi, tetapi oleh tangan-tangan yang membimbing mereka dengan cinta, akal sehat, dan keteladanan. Maka jika dunia digital menjadi ruang berbahaya bagi anak-anak, bukan algoritma yang salah kitalah yang belum cukup hadir.

---
Sumber: TIMES INDONESIA