Loading...
Menghadapi Bayang-Bayang Goncangan Ekonomi: Ikhtiar dan Tawakkal
11/03/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh:  Ahmad Chuvav Ibriy

 

Beberapa indikator ekonomi belakangan ini patut dibaca dengan kewaspadaan. Harga minyak dunia telah menembus angka 100 dolar per barel. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menembus kisaran Rp17.000. Di saat yang sama, defisit APBN berpotensi melewati batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto.

Bagi sebagian orang, angka-angka itu mungkin terlihat seperti statistik biasa. Namun bagi mereka yang memahami struktur ekonomi negara, kombinasi ini adalah sinyal bahwa ekonomi sedang menghadapi tekanan serius. Indonesia adalah negara pengimpor energi. Ketika harga minyak dunia naik tinggi sementara rupiah melemah terhadap dolar, biaya impor energi otomatis melonjak. Beban subsidi meningkat, inflasi berpotensi naik, dan ruang fiskal pemerintah semakin sempit.

Dalam situasi seperti ini, goncangan ekonomi bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Sejarah pernah menunjukkan bahwa tekanan kurs, harga energi, dan defisit anggaran dapat menjadi pemicu ketidakstabilan ekonomi jika tidak dikelola dengan bijak.

Namun Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghadapi krisis dengan dua sikap sekaligus: ikhtiar rasional dan tawakkal kepada Allah. Nabi Muhammad ﷺ memberikan prinsip yang sangat jelas:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah kepada Allah."

Pesan ini sangat dalam. Manusia tidak boleh pasrah tanpa usaha, tetapi juga tidak boleh sombong merasa mampu mengendalikan segalanya. Usaha harus dilakukan secara maksimal, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada kehendak Allah.

Al-Qur’an pun memerintahkan manusia untuk menyiapkan segala kemampuan yang dimiliki:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

"Siapkanlah segala kekuatan yang kalian mampu."

(QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang perang, tetapi tentang prinsip umum kehidupan: menghadapi ancaman harus dengan persiapan yang serius.

Dalam sejarah Islam terdapat kisah penting pada masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab. Pada masa itu terjadi krisis kelaparan besar yang dikenal sebagai Tahun Ramadah. Kekeringan melanda Jazirah Arab sehingga bahan makanan menjadi sangat langka.

Dalam menghadapi krisis tersebut, Umar tidak hanya berdoa. Ia mengerahkan seluruh kemampuan negara: mengirim surat ke berbagai wilayah untuk meminta bantuan pangan, membuka dapur umum bagi rakyat, dan menunda hukuman-hukuman tertentu karena kondisi darurat. Pada saat yang sama, ia memimpin rakyat melakukan doa dan istighfar memohon pertolongan Allah.

Di situlah terlihat keseimbangan ajaran Islam: usaha lahiriah dilakukan secara maksimal, sementara hati tetap bersandar kepada Allah.

Bangsa ini juga membutuhkan sikap seperti itu. Para pemimpin harus berani membaca realitas ekonomi dengan jujur dan mengambil kebijakan yang tepat. Para ahli harus menyampaikan analisis secara terbuka tanpa takut pada kekuasaan. Rakyat tetap bekerja dan menjaga solidaritas sosial.

Sementara itu, sebagai bangsa yang beriman, kita tidak boleh melupakan dimensi spiritual. Doa, istighfar, dan kesadaran moral sering kali menjadi kekuatan yang tidak terlihat tetapi mampu menyelamatkan sebuah masyarakat dari kehancuran.

Krisis ekonomi pada akhirnya bukan hanya ujian bagi kekuatan fiskal sebuah negara, tetapi juga ujian bagi kebijaksanaan para pemimpinnya dan keteguhan moral masyarakatnya.

Semoga Allah Swt menolong bangsa ini, memberi kebijaksanaan kepada para pemimpin, dan menjauhkan negeri ini dari goncangan yang lebih besar.

Gresik, 21 Ramadhan 1447H/11 Maret 2026 M.