Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Ada sebuah bait syair Arab yang sangat terkenal dalam bahasan Asmā' khamsah ilmu Nahwu:
بِأَبِهِ اقْتَدَى عَدِيٌّ فِي الْكَرَمِ
وَمَنْ يُشَابِهْ أَبَهُ فَمَا ظَلَمَ
“Adi meneladani ayahnya dalam kemurahan hati,
dan siapa yang menyerupai ayahnya, maka ia tidaklah keliru.”
Syair ini dinisbatkan kepada Ru'ba bin al-'Ajjaj, seorang penyair Arab dari masa awal Islam. Konon bait tersebut ditujukan untuk memuji Adi bin Ḥātim, putra dari tokoh legendaris Arab yang terkenal karena kedermawanannya, yaitu Ḥātim al-Ṭāʾī
Walaupun secara kronologi kemungkinan besar Ru’ba tidak pernah bertemu langsung dengan Adi bin Hatim—karena Adi wafat pada tahun 68 H sedangkan Ru’ba wafat pada tahun 145 H—namun makna syair itu tetap sangat kuat: seorang anak yang meneladani kemuliaan ayahnya tidaklah bersalah. Justru itu adalah warisan akhlak yang patut dibanggakan.
شرح الشواهد الشعرية في أمهات الكتب النحوية)
Penulis: Muhammad Hasan Shurrab)
Dalam tradisi Arab klasik, nama Ḥātim al-Tai bahkan menjadi simbol universal bagi kemurahan hati. Ketika seorang anak mengikuti sifat mulia ayahnya, masyarakat memandangnya sebagai kelanjutan dari kemuliaan itu. Seolah-olah akhlak yang baik tidak berhenti pada satu generasi, tetapi mengalir seperti sungai yang menuruni lembah waktu.
Namun pesan moral dari syair ini sebenarnya tidak hanya berlaku pada sisi kebaikan. Ia juga mengandung pelajaran yang lebih luas tentang bagaimana karakter dapat diwariskan melalui teladan.
Jika seorang ayah dikenal adil, dermawan, dan penuh empati kepada sesama, besar kemungkinan anaknya tumbuh dengan jiwa yang sama. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari contoh hidup yang ia lihat setiap hari. Ketika ia melihat ayahnya menolong orang lain, menghormati yang lemah, dan menjaga kehormatan diri, maka nilai-nilai itu perlahan membentuk kepribadiannya.
Tetapi sebaliknya juga benar. Jika seorang ayah terbiasa menindas, merampas hak orang lain, atau menggunakan kekuasaan untuk menekan yang lemah, maka tidak mengherankan bila anaknya kelak tumbuh dengan kecenderungan yang sama—bahkan bisa jadi lebih keras dan lebih kejam. Kezaliman yang diwariskan sering kali bukan hanya diteruskan, tetapi diperbesar oleh generasi berikutnya.
Di sinilah pentingnya teladan moral dalam keluarga. Anak adalah cermin yang paling jujur bagi orang tuanya. Ia menyerap sikap, bahasa, bahkan cara memandang dunia dari rumah tempat ia dibesarkan. Oleh sebab itu, pendidikan akhlak tidak cukup hanya dengan kata-kata. Ia harus hidup dalam perilaku sehari-hari.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab moral seorang ayah tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia memikul amanah untuk menanamkan nilai-nilai yang akan hidup dalam generasi setelahnya. Sebuah hadis Nabi mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, dan seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya.
Karena itu, warisan paling berharga yang bisa diberikan kepada anak bukanlah harta atau kedudukan, melainkan akhlak. Harta bisa habis, kekuasaan bisa hilang, tetapi akhlak yang baik dapat hidup berpuluh-puluh tahun setelah seseorang tiada.
Maka benar apa yang disiratkan oleh bait syair Arab itu: ketika seorang anak mengikuti kemuliaan ayahnya, ia tidaklah keliru. Justru di situlah kemuliaan sebuah keluarga dipertahankan.
Sebaliknya, jika seorang anak mewarisi kezaliman ayahnya, itu pun bukan sesuatu yang mengherankan—sebab ia hanya sedang memantulkan apa yang ia lihat sejak kecil.
Yang dimaksud “bapak” dalam konteks ini tidak selalu terbatas pada bapak biologis. Dalam kehidupan sosial dan intelektual, ada pula yang dapat disebut sebagai bapak ideologis: tokoh yang gagasan, sikap, dan cara berpikirnya diikuti oleh para pengikutnya. Sebagaimana anak biologis sering meniru watak ayahnya, para pengikut ideologi juga kerap mewarisi cara pandang tokoh yang mereka jadikan panutan. Karena itu, jika seorang “bapak ideologi” menebarkan kebijaksanaan dan keadilan, para pengikutnya cenderung tumbuh dengan semangat yang sama. Tetapi jika yang diwariskan adalah kebencian, fanatisme, atau kecenderungan menindas, maka tidak mengherankan bila generasi pengikutnya menjadi lebih keras dan bahkan lebih kejam daripada pendahulunya.
Pada akhirnya, setiap orang tua sebenarnya sedang menulis masa depan anaknya melalui perilakunya hari ini. Sebab anak tidak hanya mewarisi nama keluarga, tetapi juga mewarisi cara hidup yang ditunjukkan oleh ayahnya.
Para pemimpin yang kita lihat hari ini sebenarnya adalah “tulisan” dari para bapak mereka—baik bapak biologis maupun bapak ideologis. Karakter mereka bukan muncul tiba-tiba di ruang hampa. Ia dibentuk oleh rumah tempat mereka dibesarkan dan oleh gagasan siapa mereka dididik. Jika seorang pemimpin tumbuh dari teladan ayah yang jujur, berani membela yang lemah, dan malu berbuat zalim, biasanya kita akan melihat jejak kemuliaan itu dalam kepemimpinannya. Tetapi jika sejak awal ia dibesarkan dalam budaya keserakahan, tipu daya, dan kesewenang-wenangan—atau dididik oleh “bapak ideologi” yang memuja kekuasaan tanpa nurani—maka tidak mengherankan jika ketika berkuasa ia menjelma menjadi pemimpin yang lebih licik, lebih rakus, dan lebih kejam. Sebab kepemimpinan hanyalah kelanjutan dari pendidikan moral yang pernah ditanamkan oleh para “bapak” mereka. Jika Bapaknya Zalim, Jangan Heran Anaknya Lebih Kejam. Itulah yang sedang terjadi hari ini.
Na‘ūdzu billāhi min dzālik
Gresik, 25 Ramadhan 1447 H/15 Maret 2026