Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Sejarah tidak pernah lupa; ia mencatat dengan tinta yang tak bisa dihapus oleh jabatan, propaganda, atau kekuasaan. Siapa pun yang berbuat zalim kepada rakyat yang dipimpinnya, cepat atau lambat akan diperlakukan oleh sejarah sebagaimana ia memperlakukan rakyatnya—lihatlah bagaimana nama Ferdinand Marcos yang dulu berkuasa akhirnya lebih sering disebut bersama kisah otoritarianisme dan penggulingan, atau Hosni Mubarak yang tumbang oleh gelombang rakyatnya sendiri; bahkan di negeri ini, bayang-bayang kekuasaan Soeharto tetap menjadi pelajaran bahwa legitimasi sejati bukan ditopang lamanya berkuasa, melainkan keadilan yang dirasakan rakyat. Maka wahai para pemimpin di negeri ini, jangan pernah merasa sejarah bisa dinegosiasikan; ia adalah hakim paling sunyi namun paling tegas—dan ketika ia mengetuk palu penilaiannya, yang tertinggal bukan baliho dan pidato, melainkan jejak: apakah Anda berdiri sebagai pelayan rakyat, atau tercatat sebagai penguasa yang mengabaikannya.
Sabda Nabi Muhammad Saw berikut sudah cukup menjadi cermin bagi setiap pemimpin: “Allāhumma man waliya min amri ummatī syai’an fa syaqqa ‘alaihim fasyquq ‘alaihi, wa man waliya min amri ummatī syai’an farafaqqa bihim farfuq bih.” — “Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia; dan siapa yang mengurusi urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan kelembutan.” (HR. Muslim).
Inilah kaidah langit tentang kepemimpinan: kezaliman kepada rakyat bukan hanya berhadapan dengan kritik sejarah, tetapi juga dengan keadilan Allah Swt; sedangkan keadilan dan kasih sayang kepada rakyat bukan sekadar investasi politik, melainkan tabungan akhirat yang tak pernah rugi.
Gresik, 9 Ramadhan 1447 H./27 Februari 2026 M.
AHMAD CHUVAV IBRIY