Ketika Rakyat Menjadi Penonton di Rumahnya Sendiri
Puisi Esai
Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Malam kembali menyelimuti bumi.
Bintang-bintang bertebaran,
namun cahaya terasa redup
di hati mereka yang memikul beban hidup.
Di sebuah rumah sederhana,
seorang kiai kembali terjaga.
Bukan karena insomnia.
Bukan karena usia.
Tetapi karena negeri ini
terlalu sering hadir dalam mimpinya.
Ia berwudhu.
Lalu berdiri menghadap kiblat.
Membuka lembar demi lembar kegelisahan
yang tak pernah selesai dibaca.
---
"Ya Allah...
Aku datang lagi malam ini.
Bukan membawa urusan pribadiku.
Aku datang membawa suara-suara
yang tak pernah sampai ke meja kekuasaan."
Suaranya bergetar.
Seperti ranting tua
yang digoyang angin musim kemarau.
Ia melihat rakyat kecil
yang semakin pandai menahan lapar.
Pandai menahan kecewa.
Pandai menahan tangis.
Karena hidup telah mengajari mereka
bahwa mengeluh pun
tidak selalu menghadirkan perubahan.
---
Ya Allah...
Di negeri yang katanya kaya,
masih banyak anak-anak
yang belajar di ruang bocor.
Masih banyak orang tua
yang harus memilih:
membeli obat
atau membeli beras.
Masih banyak pemuda
yang menggenggam ijazah
namun kehilangan arah.
Sedangkan sebagian yang lain
melenggang tanpa kesulitan,
karena nama keluarga,
karena koneksi,
karena kedekatan dengan lingkaran kuasa.
Apakah keadilan kini
harus memiliki kartu anggota?
---
Kiai itu menengadah.
Air matanya jatuh perlahan.
Ia teringat janji-janji.
Janji yang pernah diucapkan
di atas panggung-panggung megah.
Janji yang disambut tepuk tangan.
Janji yang ditulis media.
Janji yang kini
menguap bersama waktu.
Rakyat diberi harapan.
Kemudian diminta bersabar.
Lalu diminta memahami keadaan.
Dan akhirnya diminta diam.
"Ya Allah,
jangan biarkan kesabaran rakyat
ditafsirkan sebagai kelemahan."
---
Dalam sujudnya,
ia melihat gedung-gedung tinggi.
Jalan-jalan besar.
Proyek-proyek raksasa.
Angka-angka pertumbuhan.
Laporan-laporan keberhasilan.
Namun di balik semua itu,
ia masih mendengar suara lirih:
"Harga naik..."
"Pekerjaan sulit..."
"Usaha sepi..."
"Hidup semakin berat..."
Seakan ada dua negeri
yang hidup berdampingan.
Satu negeri berada dalam laporan.
Satu negeri berada dalam kenyataan.
---
Ya Allah...
Mengapa suara rakyat
sering hanya dicari saat pemilihan?
Setelah itu,
mereka kembali menjadi angka.
Menjadi statistik.
Menjadi objek survei.
Menjadi penonton
di rumahnya sendiri.
Sedangkan keputusan-keputusan besar
ditentukan jauh dari suara mereka.
Bukankah negeri ini dibangun
atas nama rakyat?
Mengapa rakyat justru
sering menjadi tamu?
---
Kiai itu menghela napas panjang.
Malam semakin tua.
Namun kegelisahan belum juga tidur.
Ia teringat para pejabat
yang berlomba membangun citra.
Saling memuji.
Saling mengangkat nama.
Saling menciptakan tepuk tangan.
Sementara kritik
dianggap gangguan.
Masukan dianggap serangan.
Perbedaan dianggap permusuhan.
Padahal kebenaran
tidak selalu datang
dari orang yang mengangguk.
Kadang ia datang
dari mereka yang berani berkata:
"Ada yang harus diperbaiki."
---
"Ya Allah...
Jika negeri ini sedang diuji,
kuatkan rakyatnya.
Jika para pemimpinnya sedang lupa,
ingatkan hatinya.
Jika mereka sedang tersesat oleh pujian,
kembalikan mereka pada amanah.
Jika mereka sedang mabuk kekuasaan,
sadarkan mereka bahwa jabatan
hanyalah titipan sementara."
Karena tidak ada kursi
yang abadi.
Tidak ada kekuasaan
yang kekal.
Tidak ada kemegahan
yang mampu melawan kematian.
---
Menjelang Subuh,
kiai itu menutup doanya.
Sajadahnya basah.
Matanya sembab.
Namun harapannya tetap menyala.
Ia percaya,
Allah mendengar
apa yang tidak didengar manusia.
Allah melihat
apa yang disembunyikan kekuasaan.
Allah mengetahui
apa yang luput dari catatan dunia.
Dan ketika keadilan manusia
terkadang terlambat datang,
keadilan Allah
tak pernah salah alamat.
Maka ia pun berbisik:
"Ya Allah...
jangan biarkan negeri ini
kehilangan nurani.
Karena ketika nurani mati,
hukum menjadi dagangan.
Kekuasaan menjadi tujuan.
Dan rakyat menjadi korban.
Tetapi ketika nurani hidup,
keadilan akan menemukan jalannya,
meski harus menembus gelapnya malam."
Ya Muqallibal Qulub,
tetapkan hati kami
di jalan kebenaran.
Aamiin.
Ponpes Al-Amin
29 Juli 2026
AHMAD CHUVAV IBRIY
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik