Loading...
TAHAJUD DI UJUNG KEGELISAHAN NEGERI
28/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Puisi Esai

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy 

Malam telah jauh melangkah.

Jarum jam seakan enggan bersuara,

sementara angin hanya berbisik

di sela daun-daun yang mulai lelap.


Seorang kiai tua bangkit dari pembaringan.

Ia mengambil air wudhu

dengan tangan yang telah lama akrab

mengusap dahi umat yang resah.


Di sudut mushala rumah sederhana,

ia berdiri menghadap kiblat.

Tak ada kamera.

Tak ada wartawan.

Tak ada tepuk tangan.


Hanya seorang hamba

dan Tuhannya.

---

"Ya Allah..."

Suaranya lirih,

namun lebih nyaring daripada pidato-pidato panjang

yang setiap hari memenuhi layar dan ruang publik.


"Aku datang membawa keresahan negeriku."

Kiai itu menunduk.

Di pelupuk matanya,

tergambar wajah para petani

yang panennya tidak seberapa,

sementara pupuk dan kebutuhan hidup

terus melambung tinggi.


Terlihat pula buruh-buruh

yang bekerja sejak fajar

hingga senja menguning,

namun upahnya tak cukup

untuk membeli ketenangan.


Anak-anak muda mencari pekerjaan,

namun yang tersedia sering kali

bukan kesempatan,

melainkan persyaratan yang mustahil dipenuhi.


Sedangkan mereka yang dekat dengan kekuasaan

seolah memiliki jalan pintas

yang terbentang mulus.


"Ya Allah,

apa ini negeri menuju emas atau cemas?"


---


Dalam sujud panjangnya,

ia melihat hukum

tak lagi berjalan dengan mata tertutup,

seperti lambang yang selama ini diajarkan.

Hukum kini seperti mengenakan kacamata pilihan.

Ia tajam kepada mereka

yang lemah dan tak berdaya.


Namun menjadi tumpul

ketika berhadapan dengan kekuasaan,

jabatan,

dan tumpukan kekayaan.

Seorang rakyat kecil

dapat segera dipanggil dan diadili

karena kesalahan yang sederhana.


Tetapi mereka yang merugikan banyak orang,

yang menggerogoti amanah bangsa,

kadang masih tersenyum

di balik pagar-pagar kemewahan.


"Ya Allah,

apakah mereka lupa

bahwa Engkau adalah Hakim

yang tak pernah bisa disuap?"

---

Kiai itu menangis.

Air matanya jatuh

membasahi sajadah yang telah lama menjadi saksi

segala doa dan harapan.


Ia teringat para pemimpin negeri.


Bukan karena kebencian,

tetapi karena kecintaannya pada bangsa.

Ia melihat keputusan-keputusan lahir

lebih cepat daripada pertimbangan.


Malam bermimpi,

pagi menjadi kebijakan.

Belum selesai dibicarakan,

sudah diumumkan.

Belum dikaji,

sudah dijalankan.


Oh....omon...omon...!!!


Seolah musyawarah hanyalah formalitas,

dan wakil rakyat sekadar pelengkap

dalam panggung demokrasi.


"Ya Allah,

bukankah Engkau mengajarkan

agar urusan diputuskan dengan musyawarah?"


---


Lebih pilu lagi,

ketika di sekitar pemimpin

berkumpul orang-orang yang gemar mengangguk.


Bukan karena setuju.


Tetapi karena takut.


Takut kehilangan jabatan.

Takut kehilangan fasilitas.

Takut kehilangan kedekatan dengan kekuasaan.


Mereka menjadikan pujian

sebagai mata uang.


Mereka menjadikan sanjungan

sebagai tangga.


Mereka berkata:

"Siap, laksanakan."


Bahkan ketika hati kecil mereka

berbisik bahwa sesuatu sedang keliru.


Budaya ABS—

asal bapak senang—

menjelma menjadi penyakit yang merambat

dari meja ke meja,

dari ruang ke ruang.


Kritik dianggap ancaman.

Nasihat dianggap perlawanan.


Padahal bangsa yang besar

lahir dari keberanian mendengar kebenaran.


Bukan dari gema pujian

yang dipantulkan berkali-kali.


---


Malam semakin sunyi, fajar tlah menunggu.


Tahajud kiai itu memasuki sujud terakhir.


Sujud yang lebih panjang

daripada biasanya.


Di sana,

ia tidak mengutuk siapa pun.


Tidak menyebut nama.


Tidak meminta kehancuran.


Karena ia tahu,

doa seorang mukmin

harus lebih besar daripada amarahnya.


"Ya Allah...


Jika para pemimpin kami lupa,

ingatkanlah mereka.


Jika mereka tersesat,

tunjukkan jalan-Mu.


Jika mereka dikelilingi penjilat,

hadirkan orang-orang jujur

yang berani berkata benar.


Jika hukum telah kehilangan keberpihakannya,

tegakkan kembali keadilan-Mu.


Jika ekonomi hanya menguntungkan segelintir orang,

bukakan pintu rezeki

bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan.


Jangan biarkan negeri ini

dipimpin oleh kesombongan.


Jangan biarkan rakyat kehilangan harapan."


---


Adzan Subuh belum berkumandang.


Namun hati sang kiai

mulai terasa lapang.


Ia percaya,

tak ada doa yang sia-sia.


Mungkin langit belum menjawab hari ini.


Mungkin perubahan belum datang esok pagi.


Tetapi Tuhan tidak pernah tidur.

Dan sejarah telah mengajarkan:

sebesar apa pun kekuasaan manusia,

ia tetap kecil

di hadapan keadilan Allah.


Kiai itu mengusap wajahnya.


Lalu berdiri.


Menatap fajar yang perlahan menyingsing

di ufuk timur negeri.


Di sana masih ada harapan.


Sebab selama masih ada orang-orang

yang menangis untuk bangsanya dalam tahajud,

selama masih ada doa yang naik ke langit

dari sajadah yang basah oleh air mata,


maka negeri ini

belum kehilangan masa depannya.


Ya Allah, Ya Muhaimin Ya Salām


Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 


AHMAD CHUVAV IBRIY

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 

Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM