Membaca Ulang Sindiran Henry Kissinger
Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Dalam dunia diplomasi internasional, ada satu kalimat terkenal dari tokoh strategi Amerika, Henry Kissinger, yang sering dikutip ketika membicarakan hubungan Amerika Serikat dengan negara lain. Ia pernah mengatakan: “It may be dangerous to be America's enemy, but to be America's friend is fatal.” Kalimat ini sering diterjemahkan secara bebas: berbahaya menjadi musuh Amerika, tetapi menjadi teman Amerika bisa berakibat fatal.
Ucapan ini bukan sekadar sindiran tajam, melainkan refleksi dari realitas politik global yang sering terjadi sepanjang sejarah modern. Amerika Serikat adalah kekuatan besar dunia dengan pengaruh militer, ekonomi, dan politik yang sangat luas. Menjadi musuh negara sebesar itu tentu mengandung risiko besar: tekanan ekonomi, isolasi politik, bahkan konflik terbuka. Namun Kissinger justru menambahkan sisi lain yang lebih ironis: menjadi sekutu Amerika juga tidak selalu aman.
Sejarah hubungan internasional menunjukkan bahwa banyak negara yang awalnya menjadi sekutu dekat Amerika justru kemudian mengalami tekanan atau bahkan ditinggalkan ketika kepentingan strategis berubah. Dalam politik global, hubungan antarnegara sering kali tidak dibangun di atas loyalitas jangka panjang, tetapi lebih pada kepentingan yang terus berubah. Ketika kepentingan itu bergeser, hubungan persahabatan pun bisa berubah arah secara drastis.
Kalimat Kissinger tersebut sebenarnya menggambarkan sifat realpolitik dalam hubungan internasional. Dalam logika realpolitik, kepentingan nasional selalu menjadi prioritas utama. Negara besar akan mengambil keputusan berdasarkan apa yang paling menguntungkan bagi mereka, bukan berdasarkan kedekatan emosional atau komitmen moral terhadap sekutu. Karena itu, negara yang terlalu bergantung pada satu kekuatan besar berisiko kehilangan kemandirian dalam menentukan kebijakan luar negerinya.
Di sinilah pentingnya prinsip kedaulatan dan kemandirian politik bagi setiap negara. Sebuah bangsa harus mampu menjaga jarak yang sehat dalam hubungan internasional: bekerja sama dengan siapa pun, tetapi tidak sampai kehilangan kemampuan untuk menentukan arah kebijakannya sendiri. Dalam konteks ini, kebijakan luar negeri yang seimbang menjadi sangat penting agar sebuah negara tidak terseret terlalu jauh ke dalam orbit kepentingan kekuatan besar.
Bagi Indonesia, prinsip ini sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari fondasi politik luar negeri. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia menegaskan sikap bebas dan aktif: bebas dari keterikatan pada blok kekuatan tertentu, tetapi tetap aktif berperan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia. Prinsip ini lahir dari kesadaran bahwa dunia internasional sering kali diwarnai oleh persaingan kepentingan antarnegara besar.
Ucapan Kissinger, jika dibaca secara kritis, bukan sekadar kritik terhadap Amerika, tetapi juga peringatan bagi negara-negara lain. Dalam hubungan internasional, kedekatan dengan kekuatan besar memang bisa memberikan manfaat jangka pendek—dukungan politik, bantuan ekonomi, atau perlindungan keamanan. Namun jika hubungan itu membuat sebuah negara kehilangan kemandiriannya, maka konsekuensinya bisa sangat berat dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, pesan yang tersirat dari kalimat tersebut adalah pentingnya kewaspadaan politik dalam menjalin hubungan internasional. Persahabatan antarnegara tentu penting, tetapi kemandirian dan kedaulatan tetap harus menjadi prinsip utama. Tanpa itu, sebuah bangsa bisa saja merasa memiliki sekutu kuat, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Jangan-jangan Bapak Anu bangga menjadi teman Donal Bebek ? Up to you pakde Anu.
Gresik, 16 Ramadhan 1447 H./6 Maret 2026 M.
Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik